Kata ‘shit!’ hampir saja terlontar dari mulut Arya ketika ia tersandung di trotoar di pelataran parkir bandara Jakarta. Kekesalannya pun dipicu karena kemacetan yang membuatnya terlambat satu jam di tempat tujuan.
Setengah berlari, ia menuju ruang tunggu terminal khusus kedatangan pesawat dari luar negeri ketika HP miliknya bergetar satu kali di kantong celana. Ada sebuah pesan yang masuk. Namun, beranggapan bahwa Wennie telah lama menunggu, ia memutuskan menunda membaca pesan SMS atau MMS yang masuk tadi.
Arya kini telah tiba di pelataran. Matanya nanar mencari-cari LCD yang menampilkan jadwal keberangkatan atau kedatangan pesawat. Ada beberapa unit LCD yang bergelantungan di sana sehingga ia perlu mencari unit LCD yang ia butuhkan. Dan karena ia melakukan sambil melangkah itulah – kendati perlahan – ia tidak sadar ketika..
“Ouch!!!”
Arya tersentak. Di sebelahnya, seorang gadis dengan kacamata hitam tersampir di dahi, mengaduh kesakitan sambil terbungkuk-bungkuk sembari tetap memegang kuat-kuat pegangan tas kopor. Dari maskapai penerbangan dan singkatan bandara di stiker bagasi yang masih menempel, Arya menduga gadis itu dari Taiwan.
“Wei shi me?” tanyanya dengan bahasa Mandarin seadanya yang ia tahu.
Namun sedetik kemudian Arya kemudian menyadari kebodohannya menanyai demikian. Tentu saja gadis itu kesakitan. Melihat ujung-ujung jarinya yang menyembul di sepatu, tak pelak lagi bahwa kakinya habis terinjak. Dan geblek alias bodohnya lagi, dirinyalah penyebab bencana itu!
Si gadis Taiwan kini dengan terpincang-pincang berusaha duduk di sebuah bangku di dekat situ.
“Wo, bu zhi dao!” kata Arya memelas. Kenyatannya ia memang tidak tahu bahwa gadis itu tadi ada di sebelahnya.
Sementara beberapa orang sekitar hanya melihati dan bahkan acuh, Arya spontan berupaya memberikan pertolongan. Sayangnya, si gadis nampaknya sudah terlanjur kesal. Ia nyerocos dengan bahasa Mandarinnya yang Arya tidak pahami. Namun melihat ia mengibas tangan, jelas sudah bahwa gadis itu tidak ingin dirinya dekati.
“I just wanna help,” katanya. Kali ini dalam bahasa Inggris berhubung stok bahasa Mandarinnya sudah habis.
Si gadis kini mendesis sembari menggigit bibirnya yang hanya berpoles lipgloss. Dalam keadaan meringis seperti itu mata elangnya jadi makin nampak segaris. Namun bagi Arya, itu tak menutup keindahannya!
“Look, I’m really sorry. I just wanna help,” ulangnya penuh sesal.
Tidak ada jawaban. Gadis itu kembali mengebas tangan meminta Arya segera pergi.
Karena keletihan, gadis itu mulai melepas pegangan pada grip kopornya yang sejak tadi diseret-seret. Rasa sakit di jari kaki membuatnya tidak sadar bahwa sebagai akibatnya kopornya kini limbung. Siap terbanting dengan keras ke lantai ruang tunggu bandara.
Arya yang sebetulnya siap meninggalkan lokasi kejadian melihat peristiwa tadi. Dan akibat masih diliputi persaan bersalah, dengan refleks ia bergerak cepat untuk mencegah jangan sampai kopor itu terbanting. Pikirnya, itu bisa meredakan kemarahan si gadis. Namun di luar dugaan, gadis itu juga mencoba mencegah terbantingnya kopor miliknya.
Hanya butuh sepersekian detik sampai kemudian kepala keduanya saling bertumbukan!
Arya tergagap. Perasaan bersalah semakin melingkupi, menutupi sakit di ubun-ubunnya akibat tumbukan tidak disengaja tadi.
Di lain pihak, di tengah rasa sakit yang bertambah, si gadis semakin menunjukkan kemarahannya pada Arya.
Entah apa yang harus ia katakan. Yang jelas, Arya kemudian menyingkir. Pergi. Bukan karena tidak mau bertanggungjawab melainkan karena dirinya khawatir kehadirannya di sana dapat semakin memperkeruh suasana!
Arya bergegas pergi, semakin menjauh. Untuk sesaat rasanya ia perlu melupakan kejadian memalukan barusan. Tugasnya kini adalah menjemput Wennie yang seharusnya sudah lama tiba di bandara ini.
Drrrrttt! Drrrrt! Drrrrt!
Getar beruntuk di HP miliknya menunjukkan ada panggilan telpon yang masuk. Ketika perangkat itu diangkat, ternyata atasannya menelpon.
“Halo Pak?”
“Posisimu dimana?”
“Di b-bandara pak, mmm … aku baru saja, eh belum lama sampai disini,” jawabnya dengan jantung berdegup kencang.
“Lama amat? Kamu nyasar?”
“Di jalan macet pak.”
“Kamu habis lari-lari ya? Kenapa?”
Ugh, Arya malas menceritakan peristiwa barusan. Dari posisinya berada, ia masih bisa melihat si gadis Mandarin yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter darinya. Kasiha, gadis itu masih meringis kesakitan.
“Tidak ada apa-apa, Pak.”
“O. Eh, kamu sudah terima pesan bapak?”
“Bapak siapa?”
“Ya aku lah! Kamu suka betul ngeledek orangtua sih?”
Arya menyadari ketotolannya. “Pak Ramdan ngirim SMS?”
“Bukan, ngirim foto.”
Dengan telpon ditempel di telinga kiri, Arya terus berbincang. “Foto?”
“Iya, foto Wennie. Kamu belum tahu wajahnya kan?”
“O iya. Anu, sebetulnya aku sudah siapkan kertas karton bertuliskan namanya untuk aku pasang di pintu keluar supaya saat dirinya keluar, dia bisa melihat nama itu. Tapi karena…”
“Tapi kamu terlambat kan? Nah, karena bapak menduga begitu makanya bapak kirim fotonya. Coba kamu cek.”
Pembicaraan telpon berakhir dan Arya kini membuka foto yang dikirim dengan fasilitas MMS di HPnya.
Saat melihat foto di layar HP, Arya terperangah. Ketika jempolnya memencet tombol untuk memperbesar tampilan, Arya semakin terperangah.
Di HPnya kini terpampang foto seorang gadis. Arya melihati gadis Mandarin yang kaki dan kepalanya ‘teraniaya’ tadi, lalu melihati foto di HP, melihati gadis teraniaya, melihati foto di HP, begitu terus berulang-ulang.
Arya nyaris pingsan.
Gadis teraniaya tadi adalah Miss Wennie Indahsary!
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment