Wednesday, April 8, 2009

I Don't Need A Boyfriend - Bab 3

Kata ‘shit!’ hampir saja terlontar dari mulut Arya ketika ia tersandung di trotoar di pelataran parkir bandara Jakarta. Kekesalannya pun dipicu karena kemacetan yang membuatnya terlambat satu jam di tempat tujuan.
Setengah berlari, ia menuju ruang tunggu terminal khusus kedatangan pesawat dari luar negeri ketika HP miliknya bergetar satu kali di kantong celana. Ada sebuah pesan yang masuk. Namun, beranggapan bahwa Wennie telah lama menunggu, ia memutuskan menunda membaca pesan SMS atau MMS yang masuk tadi.
Arya kini telah tiba di pelataran. Matanya nanar mencari-cari LCD yang menampilkan jadwal keberangkatan atau kedatangan pesawat. Ada beberapa unit LCD yang bergelantungan di sana sehingga ia perlu mencari unit LCD yang ia butuhkan. Dan karena ia melakukan sambil melangkah itulah – kendati perlahan – ia tidak sadar ketika..
“Ouch!!!”
Arya tersentak. Di sebelahnya, seorang gadis dengan kacamata hitam tersampir di dahi, mengaduh kesakitan sambil terbungkuk-bungkuk sembari tetap memegang kuat-kuat pegangan tas kopor. Dari maskapai penerbangan dan singkatan bandara di stiker bagasi yang masih menempel, Arya menduga gadis itu dari Taiwan.
“Wei shi me?” tanyanya dengan bahasa Mandarin seadanya yang ia tahu.
Namun sedetik kemudian Arya kemudian menyadari kebodohannya menanyai demikian. Tentu saja gadis itu kesakitan. Melihat ujung-ujung jarinya yang menyembul di sepatu, tak pelak lagi bahwa kakinya habis terinjak. Dan geblek alias bodohnya lagi, dirinyalah penyebab bencana itu!
Si gadis Taiwan kini dengan terpincang-pincang berusaha duduk di sebuah bangku di dekat situ.
“Wo, bu zhi dao!” kata Arya memelas. Kenyatannya ia memang tidak tahu bahwa gadis itu tadi ada di sebelahnya.
Sementara beberapa orang sekitar hanya melihati dan bahkan acuh, Arya spontan berupaya memberikan pertolongan. Sayangnya, si gadis nampaknya sudah terlanjur kesal. Ia nyerocos dengan bahasa Mandarinnya yang Arya tidak pahami. Namun melihat ia mengibas tangan, jelas sudah bahwa gadis itu tidak ingin dirinya dekati.
“I just wanna help,” katanya. Kali ini dalam bahasa Inggris berhubung stok bahasa Mandarinnya sudah habis.
Si gadis kini mendesis sembari menggigit bibirnya yang hanya berpoles lipgloss. Dalam keadaan meringis seperti itu mata elangnya jadi makin nampak segaris. Namun bagi Arya, itu tak menutup keindahannya!
“Look, I’m really sorry. I just wanna help,” ulangnya penuh sesal.
Tidak ada jawaban. Gadis itu kembali mengebas tangan meminta Arya segera pergi.
Karena keletihan, gadis itu mulai melepas pegangan pada grip kopornya yang sejak tadi diseret-seret. Rasa sakit di jari kaki membuatnya tidak sadar bahwa sebagai akibatnya kopornya kini limbung. Siap terbanting dengan keras ke lantai ruang tunggu bandara.
Arya yang sebetulnya siap meninggalkan lokasi kejadian melihat peristiwa tadi. Dan akibat masih diliputi persaan bersalah, dengan refleks ia bergerak cepat untuk mencegah jangan sampai kopor itu terbanting. Pikirnya, itu bisa meredakan kemarahan si gadis. Namun di luar dugaan, gadis itu juga mencoba mencegah terbantingnya kopor miliknya.
Hanya butuh sepersekian detik sampai kemudian kepala keduanya saling bertumbukan!
Arya tergagap. Perasaan bersalah semakin melingkupi, menutupi sakit di ubun-ubunnya akibat tumbukan tidak disengaja tadi.
Di lain pihak, di tengah rasa sakit yang bertambah, si gadis semakin menunjukkan kemarahannya pada Arya.
Entah apa yang harus ia katakan. Yang jelas, Arya kemudian menyingkir. Pergi. Bukan karena tidak mau bertanggungjawab melainkan karena dirinya khawatir kehadirannya di sana dapat semakin memperkeruh suasana!
Arya bergegas pergi, semakin menjauh. Untuk sesaat rasanya ia perlu melupakan kejadian memalukan barusan. Tugasnya kini adalah menjemput Wennie yang seharusnya sudah lama tiba di bandara ini.
Drrrrttt! Drrrrt! Drrrrt!
Getar beruntuk di HP miliknya menunjukkan ada panggilan telpon yang masuk. Ketika perangkat itu diangkat, ternyata atasannya menelpon.
“Halo Pak?”
“Posisimu dimana?”
“Di b-bandara pak, mmm … aku baru saja, eh belum lama sampai disini,” jawabnya dengan jantung berdegup kencang.
“Lama amat? Kamu nyasar?”
“Di jalan macet pak.”
“Kamu habis lari-lari ya? Kenapa?”
Ugh, Arya malas menceritakan peristiwa barusan. Dari posisinya berada, ia masih bisa melihat si gadis Mandarin yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter darinya. Kasiha, gadis itu masih meringis kesakitan.
“Tidak ada apa-apa, Pak.”
“O. Eh, kamu sudah terima pesan bapak?”
“Bapak siapa?”
“Ya aku lah! Kamu suka betul ngeledek orangtua sih?”
Arya menyadari ketotolannya. “Pak Ramdan ngirim SMS?”
“Bukan, ngirim foto.”
Dengan telpon ditempel di telinga kiri, Arya terus berbincang. “Foto?”
“Iya, foto Wennie. Kamu belum tahu wajahnya kan?”
“O iya. Anu, sebetulnya aku sudah siapkan kertas karton bertuliskan namanya untuk aku pasang di pintu keluar supaya saat dirinya keluar, dia bisa melihat nama itu. Tapi karena…”
“Tapi kamu terlambat kan? Nah, karena bapak menduga begitu makanya bapak kirim fotonya. Coba kamu cek.”
Pembicaraan telpon berakhir dan Arya kini membuka foto yang dikirim dengan fasilitas MMS di HPnya.
Saat melihat foto di layar HP, Arya terperangah. Ketika jempolnya memencet tombol untuk memperbesar tampilan, Arya semakin terperangah.
Di HPnya kini terpampang foto seorang gadis. Arya melihati gadis Mandarin yang kaki dan kepalanya ‘teraniaya’ tadi, lalu melihati foto di HP, melihati gadis teraniaya, melihati foto di HP, begitu terus berulang-ulang.
Arya nyaris pingsan.
Gadis teraniaya tadi adalah Miss Wennie Indahsary!


***

I Don't Need A Boyfriend - Bab 2

Hari pertama Tasya masuk sekolah ditandai dengan awan cumulus yang mulai menggumpal di langit Jakarta. Arya yang berbagi tugas dengan sang ayah, pagi ini mengantar Tasya ke sekolah.
Seperti yang sudah dirinya duga, rasa aman Tasya belum sepenuhnya terbangun. Di hari pertama sekolah ini, gadis itu terlihat gugup semenjak keberangkatan dari rumah, selama dalam perjalanan, hingga tiba di pelataran parkir motor SLB Harapan Muda.
Dari pelataran parkir dimana Arya memarkir motor mereka, mereka lantas menapaki koridor sekolah. Setelah melihati papan pengumuman dan mengetahui lokasi kelas Tasya, Arya kemudian mengantar adiknya masuk ke dalam kelas.
Kisah tak berhenti sampai disitu.
Kemunculan Arya sebagai kontestan Vokalis Indonesia 2009 tentu menarik perhatian. Bukan cuma para guru dan pegawai sekolah, tapi termasuk juga orangtua anak-anak.
“Eh, ini teh Kinarya yah?”
Mendengar ucapan yang terlontar dari salah seorang tua murid disana, Arya hanya tersenyum sembari mengangguk kecil.
“Arya yang nyanyinya asoy itu?” timpal orang lain. Kendati tidak melihat ornag yang mengucapkannya, mendengar kata ‘asoy’ tadi Arya yakin bahwa orang itu pastilah menghabiskan masa ABG-nya di tahun 70-an.
Arya sempat merasa tersanjung juga ketika beberapa menyatakan diri sebagai fansnya. Namun ia tahu bahwa fokusnya saat itu adalah Tasya. Kemudian, dengan dalih hendak mengantarkan Tasya, Arya memisahkan diri menuju tempat yang dirasanya sedikit sepi dari kerumunan.
Namun sulit. Baru saja berjalan-jalan, seorang ibu guru lain dengan cepat merendengi jalannya.
“Selamat datang di sekolah kami, Bung Arya. Tasya ini adikmu?” tanyanya yang belakangan dikenal Arya sebagai bu Ratih.
“Iya. Aku berharap bantuan bu Ratih supaya adik aku ini betah disini.”
“Aku akan bantu. Fasilitas sekolah ini cukup lengkap koq. Kami juga menang di berbagai perlombaan. Ada lomba nyanyi, lomba matematika, lomba lukis. Kami juga memenangi kompetisi robot, dan terakhir ikut pentas drama tingkat kabupaten dan sempat menjadi juara,“ tanpa diminta wanita setengah baya itu berceloteh setengah berpromosi.
“Juara ke berapa?”
“Juara satu, Bung. Pentas lombanya baru saja kemarin.”
“Hebat.”
“Mangkanya Tasya kalo di sekolah jangan takut, ya Nak?”
Ketika melintas sisi sekolah, ternyata ada sebuah tiang jemuran di sana. Arya menunjuk, “itu kostumnya?”
Bu Ratih mengiyakan. “Itu kostum Gatot Kaca, itu kostum Singa, itu kostum Buah Durian, itu kostum Spiderman.”
Mendengar kata Spiderman, Tasya spontan berteriak-teriak dengan wajah berseri-seri. “Spiderman! Iya, Spiderman!”
Lagi-lagi bu Ratih mengiyakan. “Bener, Nak. Itu baju Spiderman. Suka ya?”
Arya melihati mimik Tasya. Melalui ujung mata, ia tahu bahwa wanita di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Ia tidak menyangkal bahwa ia menikmati popularitasnya. Tapi kalau yang naksir adalah ibu-ibu, jelas itu bukan harapannya!

***

Awan cumulus menggayut tebal di atas bandara. Wennie yang siang baru saja tiba di ruang Baggage Claim bandara bersyukur karena pendaratan pesawat yang ia tumpangi berlangsung wajar yaitu ketika cuaca masih terbilang cukup aman. Kini, dengan cuaca yang sedikit kurang bersahabat, bisa jadi pendaratan pesawat-pesawat berikut dapat terganggu.
Saat menunggui koper dari bagasi pesawat untuk ia ambil, Wennie melirik jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat yang terpampang di layar LCD. Dugaannya benar. Sudah terlihat ada 2 jadwal pendaratan pesawat yang berubah.
Pandangannya sempat beradu dengan seorang pria. Dari perawakannya yang serba pirang dan aksen bicaranya, kemungkinan besar pria itu dari Jerman. Pria itu beberapa kali menyapa. Baik saat di ruang tunggu Bandara di Taiwan, transit di Singapure maupun kini ketika telah mendarat. Wennie malas balas menyapa. Menurutnya, itu bisa berujung dengan ajakan kencan. Sesuatu yang ia tengah jauhi setelah hubungannya dengan tiga pria berturut-turut berakhir dengan kegagalan. Kejadian-kejadian tadi masih segar. Membekas begitu dalam menyisakan kenangan pahit. Sekaligus menyebalkan!
Sementara conveyor berisi berbagai tas, koper dan bungkusan terus berjalan, Wennie melihat melalui bayangan matanya. Si pria bule berpindah posisi. Dirinya yakin. Pria itu pura-pura mendekat. Sial, pikirnya. Sulit bagi dirinya untuk menggeser posisi ia berdiri saat itu mengingat kondisi sudah terbilang padat.
Dan kemudian terjadilah seperti yang dirinya duga. Pria itu menanyakan sesuatu. Sekedar bermaksud bersopansantun, Wennie membalas. Pria tadi bertanya lagi. Wennie menjawab kembali walau hanya dengan sepatah kata. Si pria bule terlihat tidak mudah menyerah dan malah makin banyak bertanya-tanya.
Untunglah koper yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wennie meraih secepat kilat, pamit pada si pria bule sebelum kemudian bergegas meninggalkan lokasi. Langkah kakinya panjang menuju pintu kaca bertuliskan ‘Exit’ yang menjadi penghubung dengan pelataran bandara.
Di sana, persis di sekitar pintu masuk, beberapa orang dari bagian travel mungkin, mengacungkan kertas-kertas berisi nama-nama orang yang akan mereka jemput. Mata elangnya mencari kesana-kemari. Berharap ada namanya disana. Tapi tidak ada. Saat ia memeriksa sekali lagi, namanya memang tidak ada.
Wennie kini berada di pelataran. Berbagai kendaraan hilir-mudik di depannya. Mobil pribadi, taksi, bis. Matanya masih terus mencari-cari. Namun bukan orang yang membawa label bertulis nama dirinya yang ia dapatkan, matanya malah tertumbuk ke pemandangan lain. Di sana, masih di ruang Baggage Claim yang tembus pandang, matanya melihat pria bule beraksen Jerman tadi yang kini nampak mendekati seorang gadis lain.
Melihatnya, Wennie menggeleng-geleng kepala sebelum kemudian duduk di bangku yang tersedia.

***

Entah karena radiasi lampu-lampu perlahan mulai mengalahkan dinginnya AC atau karena gugup, para peserta kontes VOKALIS INDONESIA 2009 yang berada di ruang terpisah merasa pagi itu suasana dalam ruangan terasa gerah.
Hari itu seluruh peserta kontes tampil lagi. Menyanyi di hadapan para juri dengan sorotan kamera. Hasil rekaman akan ditayangkan esok harinya ke seluruh nusantara untuk menentukan apakah mereka pantas masuk ke babak berikutnya atau berakhir hingga hari itu.
“Kamu nyantai banget,” Cemara tiba-tiba muncul di depannya bersama-sama dengan Ginanjar. Keduanya kontestan dari luar kota. Cemara dari Padang sedangkan Ginanjar dari Cianjur.
“Nggak ada beban ya?”
Arya yang tengah menghabiskan waktu menunggu dengan membaca-baca buku saku mengulas senyum. Bertiga mereka duduk di sudut ruangan dan mulai bercerita macam-macam. Tentu dengan setengah berbisik kalau tidak mau ditegur oleh panitia.
Sama hal dengan dirinya, baik Cemara maupun Ginanjar sama-sama berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Cemara memperbaiki posisi duduknya dan tanpa disuruh mulai bercerita.
“Aku sih nggak takut kalau harus tereliminasi di babak kualifikasi. Soalnya mengikuti acara ini membutuhkan modal yang bagi kami tidak sedikit. Kendati belum sampai menjual, tapi Papa sudah menggadaikan dua angkot yang kami miliki. Aku takut dengan lamanya aku bertahan, bapak akan semakin habis-habis menjual harta benda kami.”
“Perolehan suara kan bukan hanya dari pihakmu, tapi juga dari penonton yang puas dengan penampilanmu.”
“Ih kamu lugu amat, Jar.”
Alis Ginanjar terangkat. “Maksudmu?”
“Di tahap-tahap awal babak kualifikasi, perolehan suara yang murni dari penonton TV itu nggak banyak, ngerti? Mayoritas suara rekanan kita sendirilah yang mendongkrak popularitas.”
“Tahu dari mana?” tanya Arya setengah menggumam.
Volume suara Cemara merendah. “Aku tanya kepada beberapa kru TV.”
Ucapan Cemara membuat Arya teringat sesuatu. Cerita Cemara sepertinya tak sekedar asal bicara. Arya ingat sendiri bahwa 3 penyanyi yang tereliminasi sebelumnya sebetulnya memiliki olah vokal yang sangat bagus. Sayang, ketiganya memang harus meninggalkan ajang kontes terlebih dini mengingat sms-sms pendukung mereka tergolong minim.
“Jadi kita musti ngapain nih?” kata Ginanjar akhirnya.
Bola mata Arya berputar ke atas. “Musti ngapain? Ya tentunya kalian tetap harus tampil optimal di setiap tampil.”
“SMSnya?”
Arya mencoba menjawab sebijak mungkin. “Aku kurang tahu motif dan tujuan kalian. Tapi aku datang dan mengikuti kontes ini hanya untuk fun. Sekedar menyalurkan hobi menyanyi. Untuk itu, aku nggak akan pernah mendongkrak perolehan SMS dengan jual ini-itu dan beli pulsa HP. No way! Kalau toh memang harus tereliminasi, ya nggak apa-apa. Nothing to loose karena tampil di layar kaca 3 kali saja pun jelas-jelas memperkaya wawasan dan pengalaman hidup kita. At least, kita bisa nambah teman baru. Kalau ternyata malah menang, itu pun harusnya membuat kita sadar bahwa kemenangan kita bukan karena kekuatan diri sendiri karena dukungan bukan hanya dari keluarga kita. Jadi tak ada dalih buat nyombong.”
HP Arya yang telah bergetar beberapa kali segera ia angkat tanpa mendengar komentar Cemara sesudah itu.
“Halo.”
“Ini Bapak Arya?”
“Betul. Ini siapa?”
“Aku gurunya Tasya. Katanya dia mau bicara dengan Anda.”
Gagang telpon di ujung sana beralih. Terdengar suara lamat-lamat. Suara Tasya adiknya. Penderita Autis yang menjadi motivator perjuangan hidup dirinya dan juga ayahnya selama ini.
"Halo Cinta."
Mata Cemara membelalak sembari bertanya pada Ginanjar. “Pacarnya?”
“Adiknya,” Ginanjar mengoreksi. “Arya sering tuh telpon-telpon adiknya.”
Cemara mengangguk-angguk. Matanya melihat Arya yang dalam rangka mencari sinyal lebih baik kini bergerak ke arah jendela kaca.
"Kakak," panggil Tasya.
"Iyaaa."
“Kakak.”
“Iyaaa.”
"Kakak Ar-ya."
Buat orang yang belum pernah kenal atau mendengar Tasya berbicara, pasti akan menganggap aneh anak yang sebentar lagi berumur 8 tahun itu. Tapi tidak demikian buat Arya. Sebaliknya rasa capek dan pusing akibat pekerjaan di kantor yang belum setahun dijalaninya, sirna lebih cepat saat mendengar suara Cinta - panggilan sayang khususnya pada Tasya. Autis yang dideritanya sejak lahir justeru membuat cintanya begitu besar pada Tasya yang besok lusa mulai duduk di bangku SD.
"Mmm, ka-kak udah, kakak sudah, kakak su-dah nya-nyi belum?"
"Belum. Sebentar lagi. Kakak mau nyanyi sebaguuuus mungkin."
“Waaah.”
“Iya. Kan kakak menyanyi untuk Tasya.”
Terdengar suara menggumam di ujung sana. Tidak jelas apa yang dikatakan. Bagi Arya yang sudah amat mengenal autis adiknya, ia tidak perlu mengejar apa yang gumamkan.
"Bagaimana di sekolah?”
Jeda sejenak, sebelum Tasya menjawab. “Tasya nggak suka, nggak suka.”
“Kenapa?”
“Temen-temen pada bilang, temen-temen pada bilang, pada bilang kalo Tasya bego.”
“Tasya nggak bego. Tasya pinter. Buktinya? Udah bisa nelpon kakak di HP, hayo? Padahal Tasya baru kelas 1 SD. Siapa coba, anak yang pinter seperti Tasya? Iya kan? Iya kan?”
Upaya Arya menghibur adiknya nampak kurang mengena.
"Tasya tadi, Tasya tadi, tadi diganggu la-gi, kak."
"Diganggu lagi? Sama siapa?"
Tidak terdengar suara. Arya mencoba memanggil. Sekali, dua kali, tiga kali. Tetap tak terdengar tanggapan. Hanya isak sebagai gantinya. Sesaat kemudian, di ujung sana, Tasya memutus pembicaraan dengan mematikan panggilan telpon selulernya.

***

Olah vocal Arya dipuji habis-habisan oleh tiga anggota dewan juri. Juri pertama memberikan A plus untuknya. Juri kedua pun sangat puas, kendati terusik dengan pakaiannya yang konservatif. Adapun juri terakhir, Mbak Dewi, malah yakin bahwa selama kemampuannya tidak berubah, ia berharap Arya dapat masuk babak tiga besar.
Atas seluruh pujian tadi tentu saja diterima Arya bersyukur. Di depan kamera kegugupannya sirna ketika menyanyi. Namun justeru muncul begitu kuat ketika dirinya dinilai satu per satu. Beberapa kali ia tersenyum sambil tersipu ketika dipuja-puji.
Arya tidak menduga bahwa tidak lama kemudian, Indonesia akan mengenal dirinya. Bukan karena penampilannya namun karena senyumnya yang ternyata khas. Arya banget!
Begitu turun dari panggung, Arya tidak segera bergabung dengan yang lain melainkan menyendiri di ruang lain. Bukan karena bermaksud menjaga jarak melainkan karena HP di kantong celananya bergetar.
“Halo, Boss.”
Terdengar suara atasannya, di ujung sana. “Hei! Penyanyi idola, kamu masuk kantor dong!” panggil
Arya terkikik. Sejak ikut audisi, nama panggilannya banyak berubah. Terkadang ia dipanggil penyanyi idola lah, vokalis beken lah, artis pujaan lah.
“Kan aku cuti, Boss?” katanya sembari menutup sebelah telinga dengan telapak tangannya.
“Ih, jangan hitung-hitungan begitu dong. Kamu juga suka minta ijin keluar kantor termasuk untuk audisi kan? Ayolah, ini ada kasus penting.”
“Apa?”
Semenit berikutnya Pak Ramdan, sang atasan, memberitahu sesuatu. Wennie Indahsary yang ditugaskan untuk audit pemasok di Lombok segera tiba di Jakarta. Untuk maksud itu Arya diminta untuk menjemput di airport.
“Aku musti ngejemput Wennie di aiport?” tanyanya setengah tak percaya. “Kan dia bisa naik taksi.”
“Dia masih trauma dengan pengalaman penodongan tahun lalu.”
“Bis DAMRI?”
“Hari ini sopir-sopir mereka unjuk rasa.”
“Mobil carteran?”
“Tidak bisa, mereka kan …”
“Ojek?”
“Kamu tuh. Sudah memotong pembicaraan, ngaco lagi!” suara Pak Ramdan meninggi. Beliau pura-pura marah karena sedetik kemudian tawanya berderai. “Kamu tega Wennie naik ojek dari Bandara ke Jakarta?”
“Tega aja. Jutek sih.”
“Kalian berdua masih suka beda paham ya? Sudahlah, kamu jemput dia ya?”
“Aduuuh…”
“Please, tolong jemput. Ingat! Wennie itu anak yang punya perusahaan.”
“Aduuuh…”
“Kamu sudah selesai tampil di panggung kan?”
“Aduuuh…”
“Kamu dari tadu aduh-aduh terus. Kakimu terinjak?”
Arya hanya bisa pasarah. “Jadi aku musti ngejemput nih?”
“Ya eya lah, masa ya eya dong,” jawabnya. Sang Boss memang belakangan ini suka sekali mengucap kalimat tadi. Entah karena ingin terlihat gaul atau memang gaul sungguhan mengingat usinya yang ABG – Anak Baru Gocap alias lima puluh. “Dari tempatmu kesini hanya sepuluh menit kan? Cepat datang ke kantor ya? Aku tungguin lho!”
Pembicaraan kemudian berakhir sampai disitu.

***

Di Bandara, Wennie masih menunggu. Ia betul-betul bosan. Ia telah menunggu mulai di pelataran, di kafe, ruang tunggu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang menjemputnya segera tiba.
Saat melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 10.13. Ia menghela nafas. Sudah ½ jam ia menunggu dan belum ada tanda-tanda ada orang dari kantor yang menjemput.
Ia tidak bisa menelpon pihak kantor untuk dijemput secepatnya mengingat HPnya low-bat semenjak di Singapura.
Sambil menyeret-nyeret tas kopornya kesana-kemari, Wennie kemudian kembali menunggu. Dan perlahan, seiring berjalannya waktu, ketidaksabarannya membuncah keluar.

***

Suara riuh anak-anak di SLB Harapan Muda berangsur-angsur mereda setelah bel tanda masuk berbunyi. Waktu istirahat bermain telah habis dan anak-anak kembali ke kelas masing-masing.
Namun sebetulnya tidak semua anak masuk ke kelas masing-masing.
Tasya adalah salah satunya.
Wajahnya pucat, tangannya bersedekap dengan wajah nanar. Saat datang ke sekolah pagi hari, ada Arya di sampingnya. Kini, ia sendiri. Takut di dunia sekolah yang penuh keramaian namun asing ini.
Seperti yang ia khawatirkan, suasana di sekolah memang tidak senyaman suasana di rumah yang hangat dengan kasih sayang ayah dan kakaknya. Sekolah ternyata tidak nyaman dan bahkan menakutkan.
Hari pertama bersekolah ini buktinya.

***

Ruang kerja Pak Ramdan dalam keadaan kosong ketika Arya tiba di sana. Wajah orang itu ceria ketika melihat kedatangannya.
“Boss, ini yakin nih nggak bisa minta tolong driver?”
“Kita masih ada satu mobil operasional. Tapi supir kita pada sibuk semua. Ajab lagi mengantar anak R&D ke Badan POM. Pak Soleh sakit. Turun bero katanya. Dan satu lagi, paaak…anu… paaaak… sopo sih jenenge? Yang orang baru itu lho.”
Melihat Pak Ramdan terlihat sulit mengingat sesuatu, Arya spontan membantu. “Obama?”
“Iya, Pak Obama. Koq lali sih aku?” tanyanya retoris.
Akal bulus Arya mendadak muncul sekelebat. “Hebat ya tuh orang. Bisa jadi presiden Amrik.”
“Iya hebat.”
“Sudah begitu, dia ternyata pernah tinggal di Indonesia lagi.”
“Gitu ya?”
“Mmm, bapak ngikutin berita sewaktu beliau kampanye sewaktu jadi capres?”
“Nggak.”
“Seru lho, Pak.”
“Gitu ya?”
“Iya. Waduh, bapak ketinggalan berita nih,” cetusnya santai. Hubungan dirinya dengan Pak Ramdan memang akrab sehingga kesan formal pun hanya tersisa ketika mereka mengadakan rapat-rapat formal.
“Maklum. Sibuk.”
“Aku juga. Minggu ini kita banyak ekspor lho.”
“O yai?”
“Iya,” Arya tetap berceloteh. Akal bulus terus bekerja. Berharap Pak Ramdan melupakan perintah menyuruhnya ke bandara. “Aku sedang mengurus ekspor ke Malaysia, Australia dan India. Sibuk sekali.”
“Gitu ya?’
Bosan. Gitu-ya, gitu-ya, melulu. Sudah tiga kali nih, cetus Arya. Dalam hati tentu.
“Sebaiknya aku terus monitor ya, Pak?”
“Boleh.”
Arya seketika berseri-seri. Namun baru saja ia hendak meninggalkan ruangan, orang itu memanggil lagi.
“Eh, tunggu!” ABG yang mulai berkeriput disana-sini itu mendadak teringat sesuatu, “kamu tadi mau nanya apa ya? Kenapa kita jadi membahas masalah Obama dan masalah ekspormu?”
Arya menatap Pak Ramdan. Wajahnya dibuat se-innocent mungkin. Sok imut. Padahal – sungguh mati – ulahnya kurang ajar betul karena mengadali atau mengakali Pak Ramdan!
“Kita kan tadi membahas orang yang bisa menjemput Wennie di airport.”
Arya pasrah. Mati aku, katanya dalam hati.
“Kenapa jadi beralih topik ke hal lain?” sambungnya, “kamu ngerjain Bapak ya?”
Arya menjawab cepat. “Nggaaaaak. Sopir yang bapak maksud memang nama panggilannya Obama. Kata orang-orang tampangnya mirip-mirip Presiden Obama.”
“Item, keling, kerempeng. Apanya yang mirip Obama?”
“Mmm, mungkin kalo dilihat dari Monas,” mati-matian Arya mempertahankan wajah innocent nan kurang ajar tadi.
“Nama aslinya kan… anu…,” Pak Ramdan terlihat kesulitan lagi mengingat nama orang yang ia maksudkan.
“Kuncoro.”
“Iya Pak Kuncoro.”
“Memang ada apa dengan Pak Kuncoro, Pak?”
Ditanya demikian Pak Ramdan bingung lagi untuk yang keempat. Hanya kata ‘anu’ yang terlontar dari mulutnya.
“Kamu tadi mau nanya apa ya?”
My goodness…
Arya hanya mau tertawa dalam hati sebetulnya. Tapi gagal. Suara terkikik-nya membuat Pak Ramdan mendadak cemberut.
“Aku koq lupa terus sih? Kamu ada apa sih nanya-nanya Obama atau Pak Kuncoro?”
Pak Ramdan sebetulnya agak malu bertanya. Namun mau apa lagi? Arya sampai harus mengatur nafas terlebih dahulu sebelum mulai menjawab. “Aku hanya mau tanya. Apakah ada driver yang bisa menemani aku untuk menjemput orang di airport.”
“Ooooh iya. Wennie kan?”
Arya hanya mengangguk. Tawa kecilnya masih bersisa akibat mengingat ulah Sang Boss yang dosis lupanya seperti bertambah terus tiap hari.
“Begini,” Pak Ramdan yang sedari tadi duduk di ujung meja sekarang duduk dengan baik dan benar. Duduk di kursi dengan Arya di hadapannya. Di seberang meja kerjanya. “Kamu harus kesana. Tapi saat ini kantor sedang tidak punya driver.”
“OB?”
“Office Boy mana yang mau kamu pakai, hah? Tidak seorang pun yang bisa menyetir.”
“Jadi?”
“Kamu pergi sendiri. Bawa sendiri mobil operasional perusahaan.”
“Yang Toyota Landcruiser?”
“Kamu minta dipecat ya? Itu mobil Big Boss!”
“O. Jadi yang minibus APV?”
“Ya eya lah, masa ya eya dong,” jawabnya. Itu lagi, itu lagi.
Arya tertunduk. Sedikit pasrah. Melihat sikap anak-buahnya sekarang giliran Pak Ramdan yang terkikik menertawai.
“Bapak sudah lama tahu. Kalian sering berbeda pendapat. Barang terlambat di-rilis, Wennie komplain. Terlalu cepat dikirim dia pun protes hingga petinggi perusahaan pada tahu. Salah spesifikasi walau hanya sedikit, dia lebih komplain. Order tercampur, dia terus mencecarmu. Perusahaan pelayarannya lalai merilis Delivery Order, kamu yang kena damprat. Hilang lima karton, kamu yang diminta ngurus. Emailmu pakai huruf tebal, dia mencak-mencak. Bapak tahu semua, Arya. Tahu semua.”
“So?”
“Tapi bagaimanapun juga, sebaiknya kamu pergi menjemput di airpot. Itu usul bapak.” Pak Ramdan menyerahkan kunci kendaraan.
“O itu cuma usul toh, Pak?” mata Arya sedikit bersinar. Sepertinya ia melihat setitik harapan. Sayang, jawaban Pak Ramdan menyirnakan harapan tadi
“Itu usul tapi sifatnya wajib wajib dilaksanakan.”
Balon bertuliskan ‘ketik C spasi D alias Cape Deh’ sepertinya muncul di atas kepala Arya.
Tak ada pilihan lain, Arya sadar, dia harus memenuhi permintaan sang Boss.
“Ya sutra lah,” cetusnya sembari bangkit dari bangku. Siap meninggalkan ruang kerja bertuliskan ‘Departemen Logistic Manager’ di pintu masuknya.
“Kamu tidak keberatan kan?” tanya Pak Ramdan setengah berteriak saat Arya hendak menutup pintu ruang kerjanya.
“Kalo aku keberatan gimana pak?“
“Ya nggak boleh.“
Hhhh...
Demikianlah, Arya akhirnya meninggalkan pekerjaan yang ia tengah tekuni hari itu sambil meraih kunci. Setengah terpaksa, ia lantas membawa mobil dinas yang lowong sebelum kemudian mempercepat lanjut kendaraan untuk menuju bandara.

***

Dari jalan arteri, sebuah taksi meluncur mengarah ke pintu tol dalam kota. Sesaat setelah membayar ongkos tol, taksi kemudian mempercepat lajunya.
“Cepat sedikit ya,” cetus bapak separuh baya, penumpang yang duduk di sebelahnyanya.
Si pengemudi taksi meng-iya-kan dengan sopan sebelum menekan pedal gas lebih dalam lagi.
HP di sakunya tiba-tiba berbunyi.
Saat melihat di layar perangkat komunikasi itu bahwa panggilan adalah dari SLB tempat puterinya bersekolah, Pak Setiawan memperlambat kecepatan.
“Halo.”
“Selamat siang. Ini bapak Setiawan?”
“Betul, ini siapa?”
“Aku Catur. Kepala SLB Harapan Muda. Bapak bisa kemari segera?”
Pak Setiawan mengerenyitkan kening. “Mm, ada apa?”
“Penting pak. Ini mengenai putri bapak.”
“Ada apa dengan Tasya?”
“Anu …”
“Kenapa?”
“Anu, tanpa kami sadari, dia naik ke atap gedung sekolah.”


***

I Don't Need A Boyfriend - Bab 1

GLOBAL.NET


Indahsary, Wennie [2:39 PM]:
What????!!!
Setiawan, Kinarya [2:40 PM]:
Begitulah.
Indahsary, Wennie [2:40 PM]:
Begitulah apanya?
Setiawan, Kinarya [2:41 PM]:
Barang yang kami kirim ke Taiwan nyasar. Pihak perusahaan pelayaran sudah minta maaf. Mereka bersedia ganti rugi.
Idahsary, Wennie [2:41 PM]:
Ini bukan soal ganti rugi. Pameran yang membutuhkan produk itu hanya tinggal 1 minggu lagi. Kamu bisa kerja nggak sih?
Setiawan, Kinarya [2:41 PM]:
Maksudmu? Jangan gitu dong. Ini kan force majeur, sama sekali diluar dugaan kita.
Indahsary, Wennie [2:42 PM]:
Kamu bisa pilih perusahaan pelayaran yang bagus kan???!!!
Setiawan, Kinarya [2:42 PM]:
Lho, perusahaan pelayaran yang dipakai adalah yang paling baik.
Indahsary, Wennie [2:42 PM]:
Tapi paling mahal! Shit! Kamu memilih perusahaan yang tarifnya mahal tapi servicenya brengsek begitu?? My goodness….
Setiawan, Kinarya [2:42 PM]:
Saya baru tahu tarif mereka mahal setelah kapalnya berlayar.
Indahsary, Wennie [2:43 PM]:
SBG ORANG YG SEHARI2 BERKECIMPUNG DI LOGISTIC, SEHARUSNYA KAMU BISA AMBIL KEPUTUSAN SENDIRI UTK MEMBATALKAN.
Setiawan, Kinarya [2:43 PM]:
Hei, hei, hei… Jangan tulis pakai huruf besar dong. Apalagi diwarnai merah segala. Tidak sopan, tau?
Indahsary, Wennie [2:43 PM]:
DON’T CHANGE THE SUBJECT!!!
Setiawan, Kinarya [2:44 PM]:
Rupanya kebanyakan di luar negeri bisa membaut Anda besar kepala ya?
Indahsary, Wennie [2:44 PM]:
AS I SAID, DON’T CHANGE THE SUBJECT!! KITA LAGI NGEBAHAS MAHALNYA TARIF KAPAL. BUKAN NGEBAHAS MAHALNYA OTAKMU KARENA TIDAK PERNAH DIPAKE!!
Setiawan, Kinarya [2:45 PM]:
Lho?!
Indahsary, Wennie [2:46 PM]:
DON’T CHANGE THE SUBJECT!!!.

Indahsary, Wennie has left the instant message conversation.

Your instant message session was disconnected.

***

Balai Pertemuan Merdeka yang biasanya dipakai untuk hajatan pernikahan atau rapat skala besar, dari pagi sampai siang hari itu nampak ramai dipadati ratusan orang. Selain lautan manusia, kehadiran sebuah mobil keliling stasiun penyiaran televisi beserta spanduk ukuran ekstra besar bertuliskan ‘AUDISI AJANG VOKALIS INDONESIA 2009’ di gerbang masuk nampaknya sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
Di tengah riuh kerumunan orang yang keluar-masuk, dua pemuda berjalan berdampingan. Keduanya nampak siap meninggalkan lokasi kejadian ketika alat pengeras suara berbunyi dan seorang di antara mereka nampak mengerenyitkan kening.
“Kamu denger panggilan tadi?” tanyanya.
Rekannya, pria sebaya berambut gondrong dengan model ikat kuda mengangguk-angguk. “O iya. Kamu dipanggil audisi tuh!”
“Aku kan nggak ikuti! Panitianya salah panggil pasti.”
“Nggak. Nggak mungkin. Nama kamu memang dipanggil koq, aku dengar sendiri. Jadi, mending kamu ikut aja.”
“Nggak mungkin!”
“Nggak mungkin kenapa?”
“Pertama, aku nggak siap. Kedua, aku nggak pernah ngedaftar. Dan ketiga, kamu narik-narik bajuku dari tadi!”
“Ups, sori. Nggak berasa.”
“Dan alesan ke-empat: Anu … suara aku kan fales.”
“Ah.”
“Sumpah!”
“Bener.”
“Kentut aja fales.”
“Sok rendah hati lu!”
“Wueee, kan itu kamu sendiri yang ngomong gitu.”
“Kapan?”
“Rasanya hampir tiap hari deh. Di Twenty One, di jalan, di tempat fitness, di rumahmu. Terakhir kamu ngomong begitu kemaren sore. Saat maghrib, waktu menemani aku pipis. Ingat?”
“Enam-dua-lima! Panggilan buat Setiawan, Kinarya, peserta enam-dua-lima, segera masuk ruang audisi!”
Si pemuda imut 20an tahun berambut ikal dengan postur sedikit kurus terlihat kaget lagi - buat kesekiankalinya. “Astaga! Itu yang dipanggil memang aku ya?”
“Ya eya-laaaah,” rekannya memastikan. Tanpa sadar kelingkingnya merogoh salah satu lubang hidungnya yang mendadak gatal.
Pemuda-imut-20an-tahun tadi kelihatan agak jijik melihatnya. “Dasar tukang ngupil!” cetusnya kesal.
Rekannya buru-buru menghentikan ulah yang nampaknya memang sudah mendarahdaging itu. Rambutnya yang tergerai di dahi disibak dengan ujung telunjuk. “Sudahlah, kamu cepat masuk. Memang berapa banyak sih orang yang namanya nyeleneh sepertimu? Ayo! Jangan sampai panitia menunggu terlalu lama. Anggap aja ini kesempatanmu tampil di tivi.”
“Norak lu!”
“Siapa tau ada yang naksir. Mbah Minten, misalnya. Kan lumayan kalau kamu bisa mendapat diskon saat beli gado-gadonya.”
“Norak, tau! Kamu mengerti kan kalau aku kesini buat mengantarmu ikutan audisi. Bukan aku yang mau ikut audisi ini.”
“Ya ampun. Kamu itu lugu atau blegug sih? Masa’ kamu nggak ngerti juga?”
Pengeras suara di ruangan yang padat dengan duaratusan peserta audisi Vokalis Indonesia 2009 beserta tim pengantar masing-masing, bersuara lagi.
“Enam-dua-lima! Peserta nomor urut enam-dua-lima! Setiawan, Kinarya Setiawan!”
Arya atau Setiawan, Kinarya sekarang sadar sepenuhnya. Mendengar namanya disebut lengkap di pengeras suara – berkali-kali malah - otaknya tak perlu berputar lebih keras untuk tiba pada satu kesimpulan. Kesimpulan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Astaga!” matanya melotot. Tapi Ajab - nama rekannya itu - hanya cengengesan. “J-jadi rupanya kamu diam-diam mendaftarkan aku untuk ikut audisi ini ya?”
“Yaa begitulah,” cetus Ajab. Super kalem.
“Pantesan sehabis audisimu yang gagal tadi kau masih bkamum mau pulang. Pintar sekali kamu membuat alasan. Dari tadi aku heran apa yang membuatmu lama-lama di WC,” Arya menggeleng-geleng kepala gemas. “Kamu rupanya berniat sekali supaya aku audisi ya?”
Ajab cengengesan lagi.
“Elu tuh ye. Bisa-bisanya mendaftarkan namaku tanpa aku tahu?!”
“Jangan tanya alasannya sekarang deh. Mending kamu masuk cepat. Jurinya sudah terlalu lama menunggu tuh.”
“Enam-dua-lima! Peserta nomor urut enam-dua-lima! Setiawan, Kinarya Kharisma Setiawan!”
“Tuh! Pliiiiss, ayo cepetan masuk! Oke, oke, aku ngaku. Ini emang strategi aku. Aku memang berniat supaya kamu yang audisi. Bukan aku. Sudah deh, pliiiiis.”
“Plas-plis-plas-plis. Aku nggak siap, tahu?!”
Beberapa peserta audisi menoleh waktu Arya berujar sedikit keras.
“Tapi fren, yang namanya peluang bisa muncul di saat mendadak.”
“Sok tau! Contohnya siapa coba, hayo? Trus, dimana kejadiannya, kapan waktunya dan kronologinya kaya’ apa?”
“Astaganaga. Waktunya sudah kepepet begini masih tanya-tanya narasumber segala?”
“Panggilan terakhir. Peserta nomor enam-dua-lima!”
“Aku nggak siap, Jab. Sori.”
“Anjrit…” Ajab sutris – stress maksudnya.
“S-a-t-u!” Suara di pengeras suara mulai memberikan ultimatum.
“Aku nggak siap buat hal mendadak seperti ini. Swear!”
Ajab diam. Stok kata-katanya untuk membujuk Arya agar mengikuti kemauannya, mendadak habis dalam sekejap.
“Tengkyu banget buat atensimu. Tapi aku nggak bisa, Jab. Sori banget.”
“D-u-a!”
Di tengah beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah laku mereka, Ajab hanya bisa parah. Sejak setahun terakhir ini Ajab ingin sekali melihat Arya menonjolkan bakat vokalnya yang selama ini terpendam sempurna. Dan gelar audisi Vokalis Indonesia 2009 bisa jadi jalan ke arah itu. Semestinya.
“T-i-g-a!”
Sayang, strategi Ajab dalam menjebak Ben untuk ikut audisi tidak berjalan seperti yang ia harapkan.

***

Sebuah taksi berwarna putih menyusuri pelan di sebuah jalan. Di dalamnya, seorang gadis kecil duduk di bagian depan berdampingan dengan pengemudi taksi.
“Tasya nggak takut kan?”
Tasya, nama gadis kecil itu, nampak ragu.
“Tasya nggak takut kan?”
Pertanyaan ulangan itu masih belum juga ia jawab.
“Takut ya?” tanya sang pengemudi yang mencoba berbicara selembut mungkin. Namun gadis yang ditanya memalingkan wajah.
“Ayah yakin, Tasya pasti bisa sekolah di tempat itu. Tasya lihat sendiri kan kalau gurunya baik-baik?”
Tasya masih diam.
Tidak bereaksi.
Tidak menjawab.
Pun ketika pengemudi tadi, yang tak lain adalah ayahnya, terus berucap. Mencoba menghibur hatinya untuk tidak khawatir memasuki dunianya yang baru. Dunia sekolah.
Taksi melambat. Speedometer bergerak menuju titik nadir. Kendaraan lantas menepi, sebelum kemudian berhenti.
“Tasya, karena ayah harus nyupir dan kak Arya kerja di kantor, berarti nanti Tasya sendiri tanpa kami temani. Bisa ya?”
Kali ini Tasya menoleh. Mata keduanya beradu.
“Jadinya, jadinya Tasya, jadinya Tasya nggak ada yang, nggak ada yang nemenin?”
“I-iya. Tapi kan Tasya sudah besar.”
Mata gadis kecil itu seketika berkaca-kaca. Setiawan, nama pengemudi taksi itu, galau. Pikirannya berkecamuk. Bagi anak-anak sebaya lain, memasuki SD kelas 1 adalah hal menakutkan. Betapa hal itu akan lebih lagi jika dialami puterinya.
Tasya, penderita autis semenjak kelahirannya.
Sesaat pikiran pengemudi taksi itu mengembara ke momen 8 tahun lalu, ke sebuah klinik di sebuah kota kecil di Sumatera sebelum mereka hijrah ke Jakarta. Peristiwa ketika dirinya mengadopsi bayi mungil perempuan yang diserahkan ibu kandungnya karena ketidakmampuan membayar biaya melahirkannya secara cessar. Ia tidak begitu mengenal perempuan tadi selain bahwa gadis itu begitu belia karena masih duduk di bangku SMA. Mengingat kronologinya pun saat ini ia lupa. Yang dirinya ingat ialah ia tak segan menguras tabungannya untuk menebus sang bayi mungil. Hasratnya begitu besar dan bisa jadi hal ini dipicu karena kerinduannya memiliki buah hati perempuan yang tak jua mampu diberikan isterinya hingga maut merenggutnya dua tahun sebelumnya.
Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia saat itu ketika semua persyaratan administratif terpenuhi dan suara bayi tadi mulai memenuhi ruang-ruang rumah. Kehadiran Tasya memang merubah warna kehidupannya yang pudar menjadi penuh warna. Tak perduli kalau ternyata pada setahun berikutnya ternyata Tasya mengidap autis. Cintanya tak berubah. Baginya, Tasya adalah salah satu anugerah terindah bagi dirinya.
Pun bagi Arya, putera tunggalnya.

***

Pelatihan audit OHSAS 18001 yang diadakan siang itu benar-benar menjemukan. Dalam ruang yang dihadiri 12 staf berbagai departemen, beberapa orang terlihat menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan apa yang Arya alami.
Bosan.
Sekaligus mengantuk.
Beberapa orang yang membawa laptopnya berusaha mengusir kebosanan dengan memelototi layar yang menampilkan pesan email.
“Untuk kepentingan sertifikasi ISO 14001 dan OHSAS 18001 akan dilakukan minggu depan. Ini demi keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan di sekitar kita. Bla ... bla ... bla ...” sang instruktur berceloteh.
Jam dinding di ruang kantor menunjukkan pukul 03.45 WIB.
Kurang yakin dengan waktu yang ditunjukkan, Arya lantas melirik jam digital yang dikenakannya dan juga penunjuk waktu di layar monitor komputer di depannya. Ternyata memang baru pukul 03.45 WIB.
Hari ini rasanya panjang sekali, katanya membatin. Padahal ia ingin sekali segera pulang ke rumah setelah diterpa berbagai masalah dalam pekerjaannya hari itu. Terlebih karena konfliknya dengan salah seorang pelanggan.
Jari Arya kemudian meng-klik mouse.
Layar monitor kini menampilkan komunikasi Microsoft Office Communicator. Chatting, percakapan online secara tertulis, antara dirinya dengan Wennie Indahsary. Gadis Indonesia yang menduduki posisi Supply Chain Manager di Taiwan Food Enterprise di kota Kaohsiung.

GLOBAL.NET

Setiawan, Kinarya [4:21 PM]:
We have done the best.
Indahsary, Wennie [4:21 PM]:
The best apaan? Aku butuh barang itu sekarang. Ini koq lama amat sih?
Setiawan, Kinarya [4:21 PM]:
Wajar, barangnya ketahan di BC.
Indahsary, Wennie [4:21 PM]:
Ketahan di Bea Cukai? Mau nunggu berapa lama?
Setiawan, Kinarya [2:25 PM]:
8-9 hari lah gitu.
Indahsary, Wennie [4:24 PM]:
Shit! Trial-nya aja seminggu lagi?
Setiawan, Kinarya [4:45 PM]:
Diundur aja lah.
Indahsary, Wennie [4:24 PM]:
NO WAY! Kamu bisa kerja gak sih?
Setiawan, Kinarya [4:25 PM]:
Kamu meragukan profesionalitas sy?
Indahsary, Wennie [4:25 PM]:
Iya! Gara2 kamu gak becus kerja, perusahaan rugi 1M, ngerti?!
Setiawan, Kinarya [4:25 PM]:
Lah, yg nujuk suplier kamu kan?
Indahsary, Wennie [4:25 PM]:
Alasan!


Ada perbedaan paham yang besar antara dirinya dengan wanita itu akibat permasalahan dalam masalah pengiriman barang. Kesalahan yang disebabkan kelalaian pihak perusahaan pelayaran, ujung-ujungnya malah diputarbalikkan sehingga seolah-oleh menjadi kesalahan tunggal yang ia lakukan.
Gadis itu benar-benar pandai – kalau tidak mau dikatakan licik.
Ia juga sangat pengalaman.
Sekaligus menyebalkan.
Sang instruktur mendadak memberikan tes kecil. Pointer laser yang digunakan untuk menunjukkan topik di layar, mengarah pada sebentuk nyala api.
“Cindy,” panggilnya ke salah seorang peserta, “kalo logo ini artinya apa?”
“Mudah terbakar!”
“Tepat sekali!” Kini ia mengarah pada sebentuk serpihan barang. “Ayo Pak Syamsul, kalo logo ini artinya apa?“
“Mudah meledak!”
“Bagus!” Kini ia mengarah pada sebentuk tengkorak. “Ayo Arya, kalo logo ini artinya apa?”
Arya tergagap. “Mmm, mudah tersinggung!”
Lumayan.
Dalam sekejap suasana sep, ngantuk dan membosankan berubah meriah!

***

“Nina!”
Office girl berseragam serba coklat dengan pantalon mengerucut di ujungnya itu, menoleh. Wajahnya yang mulanya serius seketika bercahaya melihat siapa yang memanggilnya.
“Ya Mas Arya?”
“Wah, yang habis pulang kampung kelihatan segar nih. Bagaimana kabar Eyangmu?”
Senyum gadis itu melebar. Senang dengan perhatian yang pria di depannya tunjukkan. “Kondisi Eyang membaik.”
“Syukurlah.”
Hanya itu rupanya yang ingin dikatakan Arya karena setelah itu ia berbalik dan mengarah menuju suatu tempat. Mungkin ke ruang atasannya. Namun, tidak puas dengan percakapan ekstra singkat itu, Nina kini balik memanggil.
“Mas.”
Arya membalik tubuh dengan alis sedikit tertekuk. “Panggil Arya aja dong.”
Nina seolah memamerkan deretan gigi putihnya yang tumbuh merata ketika mendengar ucapan barusan.
“Ada apa?”
“Lagu yang Mas, eh Arya nyanyiin minggu lalu di TV, wah, keren.”
“O ya.”
“Aku nonton TV sama-sama Eyang. Bapakku juga. Mereka kaget begitu aku kasih tahu bahwa aku sekantor denganmu. Vokalmu baguuuuus banget.”
“Masa sih? Rasanya biasa aja tuh.”
“Nggak, itu bagus koq. Keren. Nina suka.”
“Suka kenapa?”
Duh. Ditatap sedemikian tajam, Nina menjadi sedikit rikuh. Namun ia tak mengelak bahwa ia menikmati kebersamaan ini.
“Kamu pinter bikin aransemennya.”
“Yang aransemen bukan aku. Itu panitia.”
“Tapi yang jelas, lagu itu T-O-P. Aku yakin kamu pasti maju ke babak berikut.”
“Mudah-mudahan.”
“Aransemen baru tadi ngebuat lagunya jadi terdengar istimewa, gitu. Duh, apalagi Arya nyanyiinnya sambil metik gitar. Rasanya gimanaaa begitu. Pokoknya, romantis deh.”
Arya sedikit tersedak. “O ya?”
“Nina dukung terus deh. Dengan doa, dengan SMS.”
Mendengar kata terakhir, Arya malah menjadi galau.
SMS.
Ya, sampai kapan ia bisa bertahan sebagai kontestan jika kemenangan semata hanya melalui perolehan SMS?
“Terima kasih buat dukunganmu. Mengenai SMS, tolong, jangan banyak-banyak ya? Aku nggak enak, tau? Dukung sewajarnya aja. Satu kali SMS seminggu sudah cukup koq.”
Nina terheran mendengar ucapan tadi. Dalam minggu pertama bulan ini saja ia sudah menghabiskan voucher pulsa senilai seratus ribu untuk mendukung jaboannya, Arya!
“Mana bisa menang kalo cuma segitu?”
“Aku nggak nyari kemenangan. Kalau pun kalah, kan aku tetap disini,” jawab Arya serius. “Dan itu berarti, aku bisa ketemu Nina lebih sering. Iya nggak?”
Tanpa menunggu jawaban, Arya melengos pergi. Meninggalkan Nina yang hatinya makin berdebar karena ucapannya barus.
Arya serius? Tanyanya membatin.

***

Pintu rumah baru saja terbuka sebagian ketika ekor mata Arya melihat sesuatu di baliknya. Ujung sepatu kets butut kepunyaan Ajab yang pasti tengah duduk di sofa di dekat pintu masuk.
“Ya ampun, ini orang. Aku belum datang, eh kamu sudah datang lebih dulu.”
Ajab cekikikan. Hanya suaranya yang terdengar sampai kemudian pintu terbuka lebar dan mereka kini saling bertatapan. Di ujung sana, dekat pintu belakang, Tasya ikut tertawa kecil sambil menyantap makan malamnya. Arya mendekat sebelum kemudian mencium kening gadis tadi.
Setiawan, ayah mereka, pasti belum pulang karena mobil taksi yang menjadi sarana pencarian nafkahnya tidak terlihat di pelataran depan rumah.
Sehabis menyerahkan martabak kesukaan Tasya, Arya menyandarkan tubuh di sofa yang kini sudah nyaris tak menyisakan busa.
“Aku punya alasan penting kenapa aku harus kesini.”
Sambil tetap menyimak, Arya mulai membuka tali sepatunya.
“Sebagai selebritis, kamu kan butuh anu … manajer artis.”
Alis Arya menaik. “Sejak kapan kamu jadi manajer artisku?”
“Kalau bukan aku, apakah kamu bisa ikut audisi dan mau ke babak berikutnya seperti sekarang?”
Arya menghela nafas.
Ya.
Kejadian tempo hari ketika dirinya dijebak Ajab untuk mengikuti audisi Vokalis Indonesia 2009 secara mendadak, akhirnya ia ikuti juga.
Awalnya, ia baru saja pulang dari urusan di sebuah instansi pemerintah. Dengan dalih bahwa urusan telah selesai 2 jam lebih cepat dari biasanya, Ajab yang mengendarai kendaraan lantas meminja izinnya untuk pergi ke Balai Pertemuan Merdeka dimana audisi diadakan.
Arya habis-habisan menertawai pada saat itu karena ia tahu persis kemampuan vocal Ajab. Namun karena ingin mendukung, ia pun setuju mengantar rekannya. Arya sama sekali tidak sadar bahwa pada saat formulir kepesertaan diajukan, rupanya Ajab membuat dua lembar. Satu untuk Ajab dan satu lagi buat dirinya!
Adegan selanjutnya tak sulit ditebak. Ajab gagal total sementara Arya yang mulanya hanya menjadi pengantar, ternyata malah mengikuti audisi! Itu pun dirinya hampir ditolak panitia karena tidak menjawab panggilan ketika sudah diultimatum. Tapi dasar Ajab yang memang pintar berkilah, Arya kemudian bisa juga mengikuti audisi.
Ajab memang ‘hanya’ sopir kantor yang kerap dimintakan jasa oleh Arya untuk mengantar ke berbagai tempat untuk kepentingan kantor. Namun selain kecerdasannya lumayan, Ajab pun kreatif. Begitu kreatif sehingga mampu membuat Arya terjebak dan mengikuti audisi. Belakangan Arya mengerti bahwa semenjak awal keikutsertaan Ajab dalam audisi sebetulnya tak lebih dari sekedar pancingan. Ya, pancingan agar Arya ikut serta!
Dirinya ingat sekali betapa gugup pada saat audisi tempo hari. Pertama, ia kurang begitu siap. Kedua, ia tidak tahu harus membawakan lagu apa. Dan ketiga, penampilannya dekil abis alias sangat jorok kala itu. Maklum, mobi kantor yang mereka pakai kondisi pendingin udaranya rusak.
Untunglah, olah vokal yang Arya tunjukkan tergolong luar biasa. Tembang pop dari pemenang kontes tahun lalu dinilai para juri cukup bagus untuk mengatasi tiga masalah di atas, termasuk masalah bau keringatnya. Arya cukup cerdas dengan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka dan sekaligus menghindari hembusan angin AC yang bisa membuatnya penampilannya hancur seketika!
Audisi tadi kemudian mengantarnya untuk masuk ke babak berikut. Dan berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi. Saat ini ia berada di babak kualifikasi yang menyertakan 7 kontestan berakhir.
Tentu, aktifitas tambahan tadi amat menyita waktu. Namun dirinya beruntung. Beda dengan ajang kontes menyanyi lainnya dimana penyelenggara mengharuskan peserta until tinggal di mess yang disediakan, KKTV justeru memberi banyak kebebasan bagi peserta. Termasuk di antaranya adalah kebebasan untuk tinggal di mana saja, dan kebebasan untuk tetap beraktifitas baik sebagai mahasiswa atau karyawan. Hal lain yang menguntungkan dirinya adalah lokasi stasiun KKTV sebagai penyelenggara acara yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Kedua ikatan tali sepatu kini terlepas. Arya membaringkan badan. Mencoba rileks. Pantulan kaca pada lemari makan di dalam ruang yang sama memantulkan bayangan dirinya. Melihat pantulan tadi, Ajab diam-diam mengakui sesuatu. Penampilan fisik rekannya memang tidaklah jelek. Wajah. Fisik. Keduanya.
Arya menoleh ke arah adiknya yang setelah menyelesaikan sendiri makan malamnya kini menyaksikan kartun kesayangannya di layar TV, Spiderman. “Cinta seneng banget sih nonton Spiderman?”
Cinta adalah panggilan kesayangannya.
“Tasya nggak suka nonton Barbie ya?” Ajab menimpali.
Tasya mengangguk. Arya tersenyum kecil. Kesukaan puterinya pada Spiderman tidak membuat adiknya menjadi tomboy. “Filmnya ini, filmnya ini, filmnya ini Tasya suka, Oom.”
“Karena seru ya?”
Keterbatasannya dalam berbicara membuat ia hanya menjawab seperlunya. Satu atau dua kata, biasanya. Untuk berbicara agak panjang, Tasya perlu mengucapkan berkali-kali sehingga kerap membosankan pendengarnya.
“Jadi kamu pikir aku ikutan audisi waktu itu karena bener-bener kepingin, begitu?” Arya kembali mengobrol dengan Ajab. “Kamu tahu kan, dari dulu aku kan sebetulnya nggak niat. Wueeee.”
Tasya ikut terkikik. Menyusul Ajab yang terkekeh terlebih dahulu melihat sikap Arya yang mendadak kekanakan.
“Aku kesini tuh dalam rangka persiapan kamu di penampilan berikutnya. Aku nggak rela kamu kalah sama peserta lain cuma karena masalah penampilan.”
Arya tersedak. “Maksudmu?”
Ajab mendekatkan diri di sofa. “Sebagai manajer artis, aku ngerasa…”
“Manajer artis?”
“Kamu koq protes melulu sih? Keberatan? Ya sudah, aku ganti istilahnya: tim sukses, begitu. Puas?”
“Ya terserah. Lalu?”
Rupanya dari tadi Ajab membawa suatu bingkisan.
“Aku bawa ini.”
“Apa itu? Ayam bakar?”
“Pikiranmu tidak bisa elit sedikit?” cetus Ajab berlagak marah. “Ini baju. Buat penampilan kamu berikutnya. Jadi kamu bisa nyanyi lebih afdol.”
Arya menatap Ajab nyaris tanpa reaksi. “Friend, aku tuh bisa menyanyi bagus pakai baju apa saja.”
“Ngerti. Tapi apa itu berarti kamu mau menyanyi dengan memakai celana kolor?”
“Ya nggak sedratis itu lah.”
“Mangkanya kamu diem aja deh. Nurut sedikit kenapa sih?”
Sesaat Arya menurut. Ia hanya melihati saja ketika Ajab membuka bungkusan yang ia bawa. Sehelai kemeja lengan pendek berwarna biru tua kini dibentangkan di hadapan Arya.
“Tadaaaaa….”
“Apanya yang tadaaa? Kamu masih waras apa nggak sih?”
“Maksudmu?”
“Itu baju buruh pabrik kan? Baju waktu kamu masih kerja di Cikarang tahun lalu sebelum kamu lantas di-PHK? Gile lu! Tega betul sih? Masak aku harus pakai baju yang modelnya kampungan begitu?”
“Kamu menghina?” Arya keliatan agak kurang suka.
“Bukan menghina,” jawab Ajab tanpa reaksi, “tapi mencela.”
“Nyebelin.”
“Lihat tu di atas saku, masih ada emblem perusahaan.”
“Kan bisa di-kletek.”
Sebelum Arya protes, Ajab buru-buru bangun untuk membenarkan alasannya.
“Begini lho. Kamu lebih sreg pake baju yang kamu punya? Biar pun pengalaman kerjaku cuma Office Boy atau sopir sekalipun aku tuh bisa nilai kalau kamu itu katro, tau nggak?”
“Sembarangan!”
“Emang kamu mau pakai baju mana, nak?” katanya sok tua dan sok tau. “Baju warna hijau yang lipatan kerahnya sudah bulukan? Baju lengan panjang kotak-kota hitam yang ada cipratan sambal dan kecapnya? Kemeja lengan pendek warna kuning yang keliatan bekas tambalan disana-sini? Atau kaos bekas kampanye? Gara-gara sifat sosialmu itu kebangetan, bajumu yang bagus cuma yang garis-garis biru kan?”
“Kan aku punya tiga kemeja.”
“Yang tiga biji harganya goban itu kan? Duh, kamu bener-bener katro ya? Bisa-bisanya beli tiga kemeja tapi sama semua baik warna, motif maupun potongannya. Apa iya kamu mau tampil ketigakalinya pake baju yang motifnya sama?”
Arya terdiam. Pasrah.
Omongan Ajab seluruhnya benar.

***

I Don't Need A Boyfriend - Sinopsis

Kinarya, pemuda 25 tahun, adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan. Berteman akrab dengan Ajab, sopir kantor. Arya, panggilannya, memiliki adik penderita autis, Tasya berumur 8 tahun. Ibunya telah meninggal dan ia hidup bersama Setiawan, ayahnya, yang sehari2 bekerja sbg sopir taksi.

Terjebak ulah Ajab, Arya mengikuti audisi Vokalis Indonesia 2009 yang kemudian membawanya masuk ke babak kualifikasi 10 besar. Di tengah kondisi itu muncul Wennie, puteri pemilik perusahaan. Hubungan mereka kacau karena dari sejak awal keduanya diliputi saling curiga dan 90% pertemuan – baik langsung maupun tidak – berujung dengan konflik.

Di saat yang sama Arya dan ayahnya tengah berusaha keras menjadikan Tasya sebagai gadis yang sehat, cerdas dan dapat diterima lingkungannya. Itu tentu membutuhkan komitmen karena mengeluarkan waktu dan dana yang tidak sedikit. Ketika Tasya sakit keras, Arya kemudian memutuskan mundur dari kepesertaanya di kontes. Jelas itu adalah keputusan berat mengingat 3 juri Vokalis Indonesia 2009 memberi harapan besar buat dirinya. Namun keputusan mundur memang telah Arya canangkan. Selain masalah Tasya, Ia pun sadar bahwa tipis kemungkinan untuk maju ke babak-babak berikut jika penentuan kemenangan semata hanya dibuat berdasarkan perolehan sms yang masuk. Keputusan Arya untuk fokus kepada adiknya berimplikasi lebih luas. Wennie dapat belajar 1 sikap penting dari diri Arya: ketegasan dan komitmennya untuk mengutamakan hal yang utama.

Tiba-tiba benih ketertarikan muncul dari dalam diri Wennie. Merambah cepat menguasai relung hatinya yang selama ini bosan dengan pendekatan pria-pria yang selama ini ‘ada maunya.’ Namun Wennie juga sadar bahwa tidak mudah meraih simpati Arya. Selain sikap welas-asihnya yang ‘keterlaluan’ Arya kini telah menjadi selebritis kecil. Artinya gadis-gadis peminat Arya pun tidak sedikit. Mulai dari tipikal gadis desa seperti Nina, Priska si posesif yang ‘putus’ urat malunya, dan Rania yang ‘gatel.’ Bahkan termasuk juga Ade, dokter klinik kantor yang adalah ... bapak-bapak!

Di saat semerbak cinta mulai memabuk sukma dan Arya pun mulai membuka hati, Wennie harus menghadapi kenyataan baru. Di balik sikap Arya yang kerap ceria, pria itu ternyata memiliki aib masa lalu. Aib yang selama ini tertutup rapat kini membuat Wennie perlu memutuskan apakah ia perlu meneruskan jalinan kasihnya atau mengakhirinya hingga disitu.