GLOBAL.NET
Indahsary, Wennie [2:39 PM]:
What????!!!
Setiawan, Kinarya [2:40 PM]:
Begitulah.
Indahsary, Wennie [2:40 PM]:
Begitulah apanya?
Setiawan, Kinarya [2:41 PM]:
Barang yang kami kirim ke Taiwan nyasar. Pihak perusahaan pelayaran sudah minta maaf. Mereka bersedia ganti rugi.
Idahsary, Wennie [2:41 PM]:
Ini bukan soal ganti rugi. Pameran yang membutuhkan produk itu hanya tinggal 1 minggu lagi. Kamu bisa kerja nggak sih?
Setiawan, Kinarya [2:41 PM]:
Maksudmu? Jangan gitu dong. Ini kan force majeur, sama sekali diluar dugaan kita.
Indahsary, Wennie [2:42 PM]:
Kamu bisa pilih perusahaan pelayaran yang bagus kan???!!!
Setiawan, Kinarya [2:42 PM]:
Lho, perusahaan pelayaran yang dipakai adalah yang paling baik.
Indahsary, Wennie [2:42 PM]:
Tapi paling mahal! Shit! Kamu memilih perusahaan yang tarifnya mahal tapi servicenya brengsek begitu?? My goodness….
Setiawan, Kinarya [2:42 PM]:
Saya baru tahu tarif mereka mahal setelah kapalnya berlayar.
Indahsary, Wennie [2:43 PM]:
SBG ORANG YG SEHARI2 BERKECIMPUNG DI LOGISTIC, SEHARUSNYA KAMU BISA AMBIL KEPUTUSAN SENDIRI UTK MEMBATALKAN.
Setiawan, Kinarya [2:43 PM]:
Hei, hei, hei… Jangan tulis pakai huruf besar dong. Apalagi diwarnai merah segala. Tidak sopan, tau?
Indahsary, Wennie [2:43 PM]:
DON’T CHANGE THE SUBJECT!!!
Setiawan, Kinarya [2:44 PM]:
Rupanya kebanyakan di luar negeri bisa membaut Anda besar kepala ya?
Indahsary, Wennie [2:44 PM]:
AS I SAID, DON’T CHANGE THE SUBJECT!! KITA LAGI NGEBAHAS MAHALNYA TARIF KAPAL. BUKAN NGEBAHAS MAHALNYA OTAKMU KARENA TIDAK PERNAH DIPAKE!!
Setiawan, Kinarya [2:45 PM]:
Lho?!
Indahsary, Wennie [2:46 PM]:
DON’T CHANGE THE SUBJECT!!!.
Indahsary, Wennie has left the instant message conversation.
Your instant message session was disconnected.
***
Balai Pertemuan Merdeka yang biasanya dipakai untuk hajatan pernikahan atau rapat skala besar, dari pagi sampai siang hari itu nampak ramai dipadati ratusan orang. Selain lautan manusia, kehadiran sebuah mobil keliling stasiun penyiaran televisi beserta spanduk ukuran ekstra besar bertuliskan ‘AUDISI AJANG VOKALIS INDONESIA 2009’ di gerbang masuk nampaknya sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
Di tengah riuh kerumunan orang yang keluar-masuk, dua pemuda berjalan berdampingan. Keduanya nampak siap meninggalkan lokasi kejadian ketika alat pengeras suara berbunyi dan seorang di antara mereka nampak mengerenyitkan kening.
“Kamu denger panggilan tadi?” tanyanya.
Rekannya, pria sebaya berambut gondrong dengan model ikat kuda mengangguk-angguk. “O iya. Kamu dipanggil audisi tuh!”
“Aku kan nggak ikuti! Panitianya salah panggil pasti.”
“Nggak. Nggak mungkin. Nama kamu memang dipanggil koq, aku dengar sendiri. Jadi, mending kamu ikut aja.”
“Nggak mungkin!”
“Nggak mungkin kenapa?”
“Pertama, aku nggak siap. Kedua, aku nggak pernah ngedaftar. Dan ketiga, kamu narik-narik bajuku dari tadi!”
“Ups, sori. Nggak berasa.”
“Dan alesan ke-empat: Anu … suara aku kan fales.”
“Ah.”
“Sumpah!”
“Bener.”
“Kentut aja fales.”
“Sok rendah hati lu!”
“Wueee, kan itu kamu sendiri yang ngomong gitu.”
“Kapan?”
“Rasanya hampir tiap hari deh. Di Twenty One, di jalan, di tempat fitness, di rumahmu. Terakhir kamu ngomong begitu kemaren sore. Saat maghrib, waktu menemani aku pipis. Ingat?”
“Enam-dua-lima! Panggilan buat Setiawan, Kinarya, peserta enam-dua-lima, segera masuk ruang audisi!”
Si pemuda imut 20an tahun berambut ikal dengan postur sedikit kurus terlihat kaget lagi - buat kesekiankalinya. “Astaga! Itu yang dipanggil memang aku ya?”
“Ya eya-laaaah,” rekannya memastikan. Tanpa sadar kelingkingnya merogoh salah satu lubang hidungnya yang mendadak gatal.
Pemuda-imut-20an-tahun tadi kelihatan agak jijik melihatnya. “Dasar tukang ngupil!” cetusnya kesal.
Rekannya buru-buru menghentikan ulah yang nampaknya memang sudah mendarahdaging itu. Rambutnya yang tergerai di dahi disibak dengan ujung telunjuk. “Sudahlah, kamu cepat masuk. Memang berapa banyak sih orang yang namanya nyeleneh sepertimu? Ayo! Jangan sampai panitia menunggu terlalu lama. Anggap aja ini kesempatanmu tampil di tivi.”
“Norak lu!”
“Siapa tau ada yang naksir. Mbah Minten, misalnya. Kan lumayan kalau kamu bisa mendapat diskon saat beli gado-gadonya.”
“Norak, tau! Kamu mengerti kan kalau aku kesini buat mengantarmu ikutan audisi. Bukan aku yang mau ikut audisi ini.”
“Ya ampun. Kamu itu lugu atau blegug sih? Masa’ kamu nggak ngerti juga?”
Pengeras suara di ruangan yang padat dengan duaratusan peserta audisi Vokalis Indonesia 2009 beserta tim pengantar masing-masing, bersuara lagi.
“Enam-dua-lima! Peserta nomor urut enam-dua-lima! Setiawan, Kinarya Setiawan!”
Arya atau Setiawan, Kinarya sekarang sadar sepenuhnya. Mendengar namanya disebut lengkap di pengeras suara – berkali-kali malah - otaknya tak perlu berputar lebih keras untuk tiba pada satu kesimpulan. Kesimpulan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Astaga!” matanya melotot. Tapi Ajab - nama rekannya itu - hanya cengengesan. “J-jadi rupanya kamu diam-diam mendaftarkan aku untuk ikut audisi ini ya?”
“Yaa begitulah,” cetus Ajab. Super kalem.
“Pantesan sehabis audisimu yang gagal tadi kau masih bkamum mau pulang. Pintar sekali kamu membuat alasan. Dari tadi aku heran apa yang membuatmu lama-lama di WC,” Arya menggeleng-geleng kepala gemas. “Kamu rupanya berniat sekali supaya aku audisi ya?”
Ajab cengengesan lagi.
“Elu tuh ye. Bisa-bisanya mendaftarkan namaku tanpa aku tahu?!”
“Jangan tanya alasannya sekarang deh. Mending kamu masuk cepat. Jurinya sudah terlalu lama menunggu tuh.”
“Enam-dua-lima! Peserta nomor urut enam-dua-lima! Setiawan, Kinarya Kharisma Setiawan!”
“Tuh! Pliiiiss, ayo cepetan masuk! Oke, oke, aku ngaku. Ini emang strategi aku. Aku memang berniat supaya kamu yang audisi. Bukan aku. Sudah deh, pliiiiis.”
“Plas-plis-plas-plis. Aku nggak siap, tahu?!”
Beberapa peserta audisi menoleh waktu Arya berujar sedikit keras.
“Tapi fren, yang namanya peluang bisa muncul di saat mendadak.”
“Sok tau! Contohnya siapa coba, hayo? Trus, dimana kejadiannya, kapan waktunya dan kronologinya kaya’ apa?”
“Astaganaga. Waktunya sudah kepepet begini masih tanya-tanya narasumber segala?”
“Panggilan terakhir. Peserta nomor enam-dua-lima!”
“Aku nggak siap, Jab. Sori.”
“Anjrit…” Ajab sutris – stress maksudnya.
“S-a-t-u!” Suara di pengeras suara mulai memberikan ultimatum.
“Aku nggak siap buat hal mendadak seperti ini. Swear!”
Ajab diam. Stok kata-katanya untuk membujuk Arya agar mengikuti kemauannya, mendadak habis dalam sekejap.
“Tengkyu banget buat atensimu. Tapi aku nggak bisa, Jab. Sori banget.”
“D-u-a!”
Di tengah beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah laku mereka, Ajab hanya bisa parah. Sejak setahun terakhir ini Ajab ingin sekali melihat Arya menonjolkan bakat vokalnya yang selama ini terpendam sempurna. Dan gelar audisi Vokalis Indonesia 2009 bisa jadi jalan ke arah itu. Semestinya.
“T-i-g-a!”
Sayang, strategi Ajab dalam menjebak Ben untuk ikut audisi tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
***
Sebuah taksi berwarna putih menyusuri pelan di sebuah jalan. Di dalamnya, seorang gadis kecil duduk di bagian depan berdampingan dengan pengemudi taksi.
“Tasya nggak takut kan?”
Tasya, nama gadis kecil itu, nampak ragu.
“Tasya nggak takut kan?”
Pertanyaan ulangan itu masih belum juga ia jawab.
“Takut ya?” tanya sang pengemudi yang mencoba berbicara selembut mungkin. Namun gadis yang ditanya memalingkan wajah.
“Ayah yakin, Tasya pasti bisa sekolah di tempat itu. Tasya lihat sendiri kan kalau gurunya baik-baik?”
Tasya masih diam.
Tidak bereaksi.
Tidak menjawab.
Pun ketika pengemudi tadi, yang tak lain adalah ayahnya, terus berucap. Mencoba menghibur hatinya untuk tidak khawatir memasuki dunianya yang baru. Dunia sekolah.
Taksi melambat. Speedometer bergerak menuju titik nadir. Kendaraan lantas menepi, sebelum kemudian berhenti.
“Tasya, karena ayah harus nyupir dan kak Arya kerja di kantor, berarti nanti Tasya sendiri tanpa kami temani. Bisa ya?”
Kali ini Tasya menoleh. Mata keduanya beradu.
“Jadinya, jadinya Tasya, jadinya Tasya nggak ada yang, nggak ada yang nemenin?”
“I-iya. Tapi kan Tasya sudah besar.”
Mata gadis kecil itu seketika berkaca-kaca. Setiawan, nama pengemudi taksi itu, galau. Pikirannya berkecamuk. Bagi anak-anak sebaya lain, memasuki SD kelas 1 adalah hal menakutkan. Betapa hal itu akan lebih lagi jika dialami puterinya.
Tasya, penderita autis semenjak kelahirannya.
Sesaat pikiran pengemudi taksi itu mengembara ke momen 8 tahun lalu, ke sebuah klinik di sebuah kota kecil di Sumatera sebelum mereka hijrah ke Jakarta. Peristiwa ketika dirinya mengadopsi bayi mungil perempuan yang diserahkan ibu kandungnya karena ketidakmampuan membayar biaya melahirkannya secara cessar. Ia tidak begitu mengenal perempuan tadi selain bahwa gadis itu begitu belia karena masih duduk di bangku SMA. Mengingat kronologinya pun saat ini ia lupa. Yang dirinya ingat ialah ia tak segan menguras tabungannya untuk menebus sang bayi mungil. Hasratnya begitu besar dan bisa jadi hal ini dipicu karena kerinduannya memiliki buah hati perempuan yang tak jua mampu diberikan isterinya hingga maut merenggutnya dua tahun sebelumnya.
Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia saat itu ketika semua persyaratan administratif terpenuhi dan suara bayi tadi mulai memenuhi ruang-ruang rumah. Kehadiran Tasya memang merubah warna kehidupannya yang pudar menjadi penuh warna. Tak perduli kalau ternyata pada setahun berikutnya ternyata Tasya mengidap autis. Cintanya tak berubah. Baginya, Tasya adalah salah satu anugerah terindah bagi dirinya.
Pun bagi Arya, putera tunggalnya.
***
Pelatihan audit OHSAS 18001 yang diadakan siang itu benar-benar menjemukan. Dalam ruang yang dihadiri 12 staf berbagai departemen, beberapa orang terlihat menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan apa yang Arya alami.
Bosan.
Sekaligus mengantuk.
Beberapa orang yang membawa laptopnya berusaha mengusir kebosanan dengan memelototi layar yang menampilkan pesan email.
“Untuk kepentingan sertifikasi ISO 14001 dan OHSAS 18001 akan dilakukan minggu depan. Ini demi keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan di sekitar kita. Bla ... bla ... bla ...” sang instruktur berceloteh.
Jam dinding di ruang kantor menunjukkan pukul 03.45 WIB.
Kurang yakin dengan waktu yang ditunjukkan, Arya lantas melirik jam digital yang dikenakannya dan juga penunjuk waktu di layar monitor komputer di depannya. Ternyata memang baru pukul 03.45 WIB.
Hari ini rasanya panjang sekali, katanya membatin. Padahal ia ingin sekali segera pulang ke rumah setelah diterpa berbagai masalah dalam pekerjaannya hari itu. Terlebih karena konfliknya dengan salah seorang pelanggan.
Jari Arya kemudian meng-klik mouse.
Layar monitor kini menampilkan komunikasi Microsoft Office Communicator. Chatting, percakapan online secara tertulis, antara dirinya dengan Wennie Indahsary. Gadis Indonesia yang menduduki posisi Supply Chain Manager di Taiwan Food Enterprise di kota Kaohsiung.
GLOBAL.NET
Setiawan, Kinarya [4:21 PM]:
We have done the best.
Indahsary, Wennie [4:21 PM]:
The best apaan? Aku butuh barang itu sekarang. Ini koq lama amat sih?
Setiawan, Kinarya [4:21 PM]:
Wajar, barangnya ketahan di BC.
Indahsary, Wennie [4:21 PM]:
Ketahan di Bea Cukai? Mau nunggu berapa lama?
Setiawan, Kinarya [2:25 PM]:
8-9 hari lah gitu.
Indahsary, Wennie [4:24 PM]:
Shit! Trial-nya aja seminggu lagi?
Setiawan, Kinarya [4:45 PM]:
Diundur aja lah.
Indahsary, Wennie [4:24 PM]:
NO WAY! Kamu bisa kerja gak sih?
Setiawan, Kinarya [4:25 PM]:
Kamu meragukan profesionalitas sy?
Indahsary, Wennie [4:25 PM]:
Iya! Gara2 kamu gak becus kerja, perusahaan rugi 1M, ngerti?!
Setiawan, Kinarya [4:25 PM]:
Lah, yg nujuk suplier kamu kan?
Indahsary, Wennie [4:25 PM]:
Alasan!
Ada perbedaan paham yang besar antara dirinya dengan wanita itu akibat permasalahan dalam masalah pengiriman barang. Kesalahan yang disebabkan kelalaian pihak perusahaan pelayaran, ujung-ujungnya malah diputarbalikkan sehingga seolah-oleh menjadi kesalahan tunggal yang ia lakukan.
Gadis itu benar-benar pandai – kalau tidak mau dikatakan licik.
Ia juga sangat pengalaman.
Sekaligus menyebalkan.
Sang instruktur mendadak memberikan tes kecil. Pointer laser yang digunakan untuk menunjukkan topik di layar, mengarah pada sebentuk nyala api.
“Cindy,” panggilnya ke salah seorang peserta, “kalo logo ini artinya apa?”
“Mudah terbakar!”
“Tepat sekali!” Kini ia mengarah pada sebentuk serpihan barang. “Ayo Pak Syamsul, kalo logo ini artinya apa?“
“Mudah meledak!”
“Bagus!” Kini ia mengarah pada sebentuk tengkorak. “Ayo Arya, kalo logo ini artinya apa?”
Arya tergagap. “Mmm, mudah tersinggung!”
Lumayan.
Dalam sekejap suasana sep, ngantuk dan membosankan berubah meriah!
***
“Nina!”
Office girl berseragam serba coklat dengan pantalon mengerucut di ujungnya itu, menoleh. Wajahnya yang mulanya serius seketika bercahaya melihat siapa yang memanggilnya.
“Ya Mas Arya?”
“Wah, yang habis pulang kampung kelihatan segar nih. Bagaimana kabar Eyangmu?”
Senyum gadis itu melebar. Senang dengan perhatian yang pria di depannya tunjukkan. “Kondisi Eyang membaik.”
“Syukurlah.”
Hanya itu rupanya yang ingin dikatakan Arya karena setelah itu ia berbalik dan mengarah menuju suatu tempat. Mungkin ke ruang atasannya. Namun, tidak puas dengan percakapan ekstra singkat itu, Nina kini balik memanggil.
“Mas.”
Arya membalik tubuh dengan alis sedikit tertekuk. “Panggil Arya aja dong.”
Nina seolah memamerkan deretan gigi putihnya yang tumbuh merata ketika mendengar ucapan barusan.
“Ada apa?”
“Lagu yang Mas, eh Arya nyanyiin minggu lalu di TV, wah, keren.”
“O ya.”
“Aku nonton TV sama-sama Eyang. Bapakku juga. Mereka kaget begitu aku kasih tahu bahwa aku sekantor denganmu. Vokalmu baguuuuus banget.”
“Masa sih? Rasanya biasa aja tuh.”
“Nggak, itu bagus koq. Keren. Nina suka.”
“Suka kenapa?”
Duh. Ditatap sedemikian tajam, Nina menjadi sedikit rikuh. Namun ia tak mengelak bahwa ia menikmati kebersamaan ini.
“Kamu pinter bikin aransemennya.”
“Yang aransemen bukan aku. Itu panitia.”
“Tapi yang jelas, lagu itu T-O-P. Aku yakin kamu pasti maju ke babak berikut.”
“Mudah-mudahan.”
“Aransemen baru tadi ngebuat lagunya jadi terdengar istimewa, gitu. Duh, apalagi Arya nyanyiinnya sambil metik gitar. Rasanya gimanaaa begitu. Pokoknya, romantis deh.”
Arya sedikit tersedak. “O ya?”
“Nina dukung terus deh. Dengan doa, dengan SMS.”
Mendengar kata terakhir, Arya malah menjadi galau.
SMS.
Ya, sampai kapan ia bisa bertahan sebagai kontestan jika kemenangan semata hanya melalui perolehan SMS?
“Terima kasih buat dukunganmu. Mengenai SMS, tolong, jangan banyak-banyak ya? Aku nggak enak, tau? Dukung sewajarnya aja. Satu kali SMS seminggu sudah cukup koq.”
Nina terheran mendengar ucapan tadi. Dalam minggu pertama bulan ini saja ia sudah menghabiskan voucher pulsa senilai seratus ribu untuk mendukung jaboannya, Arya!
“Mana bisa menang kalo cuma segitu?”
“Aku nggak nyari kemenangan. Kalau pun kalah, kan aku tetap disini,” jawab Arya serius. “Dan itu berarti, aku bisa ketemu Nina lebih sering. Iya nggak?”
Tanpa menunggu jawaban, Arya melengos pergi. Meninggalkan Nina yang hatinya makin berdebar karena ucapannya barus.
Arya serius? Tanyanya membatin.
***
Pintu rumah baru saja terbuka sebagian ketika ekor mata Arya melihat sesuatu di baliknya. Ujung sepatu kets butut kepunyaan Ajab yang pasti tengah duduk di sofa di dekat pintu masuk.
“Ya ampun, ini orang. Aku belum datang, eh kamu sudah datang lebih dulu.”
Ajab cekikikan. Hanya suaranya yang terdengar sampai kemudian pintu terbuka lebar dan mereka kini saling bertatapan. Di ujung sana, dekat pintu belakang, Tasya ikut tertawa kecil sambil menyantap makan malamnya. Arya mendekat sebelum kemudian mencium kening gadis tadi.
Setiawan, ayah mereka, pasti belum pulang karena mobil taksi yang menjadi sarana pencarian nafkahnya tidak terlihat di pelataran depan rumah.
Sehabis menyerahkan martabak kesukaan Tasya, Arya menyandarkan tubuh di sofa yang kini sudah nyaris tak menyisakan busa.
“Aku punya alasan penting kenapa aku harus kesini.”
Sambil tetap menyimak, Arya mulai membuka tali sepatunya.
“Sebagai selebritis, kamu kan butuh anu … manajer artis.”
Alis Arya menaik. “Sejak kapan kamu jadi manajer artisku?”
“Kalau bukan aku, apakah kamu bisa ikut audisi dan mau ke babak berikutnya seperti sekarang?”
Arya menghela nafas.
Ya.
Kejadian tempo hari ketika dirinya dijebak Ajab untuk mengikuti audisi Vokalis Indonesia 2009 secara mendadak, akhirnya ia ikuti juga.
Awalnya, ia baru saja pulang dari urusan di sebuah instansi pemerintah. Dengan dalih bahwa urusan telah selesai 2 jam lebih cepat dari biasanya, Ajab yang mengendarai kendaraan lantas meminja izinnya untuk pergi ke Balai Pertemuan Merdeka dimana audisi diadakan.
Arya habis-habisan menertawai pada saat itu karena ia tahu persis kemampuan vocal Ajab. Namun karena ingin mendukung, ia pun setuju mengantar rekannya. Arya sama sekali tidak sadar bahwa pada saat formulir kepesertaan diajukan, rupanya Ajab membuat dua lembar. Satu untuk Ajab dan satu lagi buat dirinya!
Adegan selanjutnya tak sulit ditebak. Ajab gagal total sementara Arya yang mulanya hanya menjadi pengantar, ternyata malah mengikuti audisi! Itu pun dirinya hampir ditolak panitia karena tidak menjawab panggilan ketika sudah diultimatum. Tapi dasar Ajab yang memang pintar berkilah, Arya kemudian bisa juga mengikuti audisi.
Ajab memang ‘hanya’ sopir kantor yang kerap dimintakan jasa oleh Arya untuk mengantar ke berbagai tempat untuk kepentingan kantor. Namun selain kecerdasannya lumayan, Ajab pun kreatif. Begitu kreatif sehingga mampu membuat Arya terjebak dan mengikuti audisi. Belakangan Arya mengerti bahwa semenjak awal keikutsertaan Ajab dalam audisi sebetulnya tak lebih dari sekedar pancingan. Ya, pancingan agar Arya ikut serta!
Dirinya ingat sekali betapa gugup pada saat audisi tempo hari. Pertama, ia kurang begitu siap. Kedua, ia tidak tahu harus membawakan lagu apa. Dan ketiga, penampilannya dekil abis alias sangat jorok kala itu. Maklum, mobi kantor yang mereka pakai kondisi pendingin udaranya rusak.
Untunglah, olah vokal yang Arya tunjukkan tergolong luar biasa. Tembang pop dari pemenang kontes tahun lalu dinilai para juri cukup bagus untuk mengatasi tiga masalah di atas, termasuk masalah bau keringatnya. Arya cukup cerdas dengan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka dan sekaligus menghindari hembusan angin AC yang bisa membuatnya penampilannya hancur seketika!
Audisi tadi kemudian mengantarnya untuk masuk ke babak berikut. Dan berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi. Saat ini ia berada di babak kualifikasi yang menyertakan 7 kontestan berakhir.
Tentu, aktifitas tambahan tadi amat menyita waktu. Namun dirinya beruntung. Beda dengan ajang kontes menyanyi lainnya dimana penyelenggara mengharuskan peserta until tinggal di mess yang disediakan, KKTV justeru memberi banyak kebebasan bagi peserta. Termasuk di antaranya adalah kebebasan untuk tinggal di mana saja, dan kebebasan untuk tetap beraktifitas baik sebagai mahasiswa atau karyawan. Hal lain yang menguntungkan dirinya adalah lokasi stasiun KKTV sebagai penyelenggara acara yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Kedua ikatan tali sepatu kini terlepas. Arya membaringkan badan. Mencoba rileks. Pantulan kaca pada lemari makan di dalam ruang yang sama memantulkan bayangan dirinya. Melihat pantulan tadi, Ajab diam-diam mengakui sesuatu. Penampilan fisik rekannya memang tidaklah jelek. Wajah. Fisik. Keduanya.
Arya menoleh ke arah adiknya yang setelah menyelesaikan sendiri makan malamnya kini menyaksikan kartun kesayangannya di layar TV, Spiderman. “Cinta seneng banget sih nonton Spiderman?”
Cinta adalah panggilan kesayangannya.
“Tasya nggak suka nonton Barbie ya?” Ajab menimpali.
Tasya mengangguk. Arya tersenyum kecil. Kesukaan puterinya pada Spiderman tidak membuat adiknya menjadi tomboy. “Filmnya ini, filmnya ini, filmnya ini Tasya suka, Oom.”
“Karena seru ya?”
Keterbatasannya dalam berbicara membuat ia hanya menjawab seperlunya. Satu atau dua kata, biasanya. Untuk berbicara agak panjang, Tasya perlu mengucapkan berkali-kali sehingga kerap membosankan pendengarnya.
“Jadi kamu pikir aku ikutan audisi waktu itu karena bener-bener kepingin, begitu?” Arya kembali mengobrol dengan Ajab. “Kamu tahu kan, dari dulu aku kan sebetulnya nggak niat. Wueeee.”
Tasya ikut terkikik. Menyusul Ajab yang terkekeh terlebih dahulu melihat sikap Arya yang mendadak kekanakan.
“Aku kesini tuh dalam rangka persiapan kamu di penampilan berikutnya. Aku nggak rela kamu kalah sama peserta lain cuma karena masalah penampilan.”
Arya tersedak. “Maksudmu?”
Ajab mendekatkan diri di sofa. “Sebagai manajer artis, aku ngerasa…”
“Manajer artis?”
“Kamu koq protes melulu sih? Keberatan? Ya sudah, aku ganti istilahnya: tim sukses, begitu. Puas?”
“Ya terserah. Lalu?”
Rupanya dari tadi Ajab membawa suatu bingkisan.
“Aku bawa ini.”
“Apa itu? Ayam bakar?”
“Pikiranmu tidak bisa elit sedikit?” cetus Ajab berlagak marah. “Ini baju. Buat penampilan kamu berikutnya. Jadi kamu bisa nyanyi lebih afdol.”
Arya menatap Ajab nyaris tanpa reaksi. “Friend, aku tuh bisa menyanyi bagus pakai baju apa saja.”
“Ngerti. Tapi apa itu berarti kamu mau menyanyi dengan memakai celana kolor?”
“Ya nggak sedratis itu lah.”
“Mangkanya kamu diem aja deh. Nurut sedikit kenapa sih?”
Sesaat Arya menurut. Ia hanya melihati saja ketika Ajab membuka bungkusan yang ia bawa. Sehelai kemeja lengan pendek berwarna biru tua kini dibentangkan di hadapan Arya.
“Tadaaaaa….”
“Apanya yang tadaaa? Kamu masih waras apa nggak sih?”
“Maksudmu?”
“Itu baju buruh pabrik kan? Baju waktu kamu masih kerja di Cikarang tahun lalu sebelum kamu lantas di-PHK? Gile lu! Tega betul sih? Masak aku harus pakai baju yang modelnya kampungan begitu?”
“Kamu menghina?” Arya keliatan agak kurang suka.
“Bukan menghina,” jawab Ajab tanpa reaksi, “tapi mencela.”
“Nyebelin.”
“Lihat tu di atas saku, masih ada emblem perusahaan.”
“Kan bisa di-kletek.”
Sebelum Arya protes, Ajab buru-buru bangun untuk membenarkan alasannya.
“Begini lho. Kamu lebih sreg pake baju yang kamu punya? Biar pun pengalaman kerjaku cuma Office Boy atau sopir sekalipun aku tuh bisa nilai kalau kamu itu katro, tau nggak?”
“Sembarangan!”
“Emang kamu mau pakai baju mana, nak?” katanya sok tua dan sok tau. “Baju warna hijau yang lipatan kerahnya sudah bulukan? Baju lengan panjang kotak-kota hitam yang ada cipratan sambal dan kecapnya? Kemeja lengan pendek warna kuning yang keliatan bekas tambalan disana-sini? Atau kaos bekas kampanye? Gara-gara sifat sosialmu itu kebangetan, bajumu yang bagus cuma yang garis-garis biru kan?”
“Kan aku punya tiga kemeja.”
“Yang tiga biji harganya goban itu kan? Duh, kamu bener-bener katro ya? Bisa-bisanya beli tiga kemeja tapi sama semua baik warna, motif maupun potongannya. Apa iya kamu mau tampil ketigakalinya pake baju yang motifnya sama?”
Arya terdiam. Pasrah.
Omongan Ajab seluruhnya benar.
***
Wednesday, April 8, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment