Hari pertama Tasya masuk sekolah ditandai dengan awan cumulus yang mulai menggumpal di langit Jakarta. Arya yang berbagi tugas dengan sang ayah, pagi ini mengantar Tasya ke sekolah.
Seperti yang sudah dirinya duga, rasa aman Tasya belum sepenuhnya terbangun. Di hari pertama sekolah ini, gadis itu terlihat gugup semenjak keberangkatan dari rumah, selama dalam perjalanan, hingga tiba di pelataran parkir motor SLB Harapan Muda.
Dari pelataran parkir dimana Arya memarkir motor mereka, mereka lantas menapaki koridor sekolah. Setelah melihati papan pengumuman dan mengetahui lokasi kelas Tasya, Arya kemudian mengantar adiknya masuk ke dalam kelas.
Kisah tak berhenti sampai disitu.
Kemunculan Arya sebagai kontestan Vokalis Indonesia 2009 tentu menarik perhatian. Bukan cuma para guru dan pegawai sekolah, tapi termasuk juga orangtua anak-anak.
“Eh, ini teh Kinarya yah?”
Mendengar ucapan yang terlontar dari salah seorang tua murid disana, Arya hanya tersenyum sembari mengangguk kecil.
“Arya yang nyanyinya asoy itu?” timpal orang lain. Kendati tidak melihat ornag yang mengucapkannya, mendengar kata ‘asoy’ tadi Arya yakin bahwa orang itu pastilah menghabiskan masa ABG-nya di tahun 70-an.
Arya sempat merasa tersanjung juga ketika beberapa menyatakan diri sebagai fansnya. Namun ia tahu bahwa fokusnya saat itu adalah Tasya. Kemudian, dengan dalih hendak mengantarkan Tasya, Arya memisahkan diri menuju tempat yang dirasanya sedikit sepi dari kerumunan.
Namun sulit. Baru saja berjalan-jalan, seorang ibu guru lain dengan cepat merendengi jalannya.
“Selamat datang di sekolah kami, Bung Arya. Tasya ini adikmu?” tanyanya yang belakangan dikenal Arya sebagai bu Ratih.
“Iya. Aku berharap bantuan bu Ratih supaya adik aku ini betah disini.”
“Aku akan bantu. Fasilitas sekolah ini cukup lengkap koq. Kami juga menang di berbagai perlombaan. Ada lomba nyanyi, lomba matematika, lomba lukis. Kami juga memenangi kompetisi robot, dan terakhir ikut pentas drama tingkat kabupaten dan sempat menjadi juara,“ tanpa diminta wanita setengah baya itu berceloteh setengah berpromosi.
“Juara ke berapa?”
“Juara satu, Bung. Pentas lombanya baru saja kemarin.”
“Hebat.”
“Mangkanya Tasya kalo di sekolah jangan takut, ya Nak?”
Ketika melintas sisi sekolah, ternyata ada sebuah tiang jemuran di sana. Arya menunjuk, “itu kostumnya?”
Bu Ratih mengiyakan. “Itu kostum Gatot Kaca, itu kostum Singa, itu kostum Buah Durian, itu kostum Spiderman.”
Mendengar kata Spiderman, Tasya spontan berteriak-teriak dengan wajah berseri-seri. “Spiderman! Iya, Spiderman!”
Lagi-lagi bu Ratih mengiyakan. “Bener, Nak. Itu baju Spiderman. Suka ya?”
Arya melihati mimik Tasya. Melalui ujung mata, ia tahu bahwa wanita di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Ia tidak menyangkal bahwa ia menikmati popularitasnya. Tapi kalau yang naksir adalah ibu-ibu, jelas itu bukan harapannya!
***
Awan cumulus menggayut tebal di atas bandara. Wennie yang siang baru saja tiba di ruang Baggage Claim bandara bersyukur karena pendaratan pesawat yang ia tumpangi berlangsung wajar yaitu ketika cuaca masih terbilang cukup aman. Kini, dengan cuaca yang sedikit kurang bersahabat, bisa jadi pendaratan pesawat-pesawat berikut dapat terganggu.
Saat menunggui koper dari bagasi pesawat untuk ia ambil, Wennie melirik jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat yang terpampang di layar LCD. Dugaannya benar. Sudah terlihat ada 2 jadwal pendaratan pesawat yang berubah.
Pandangannya sempat beradu dengan seorang pria. Dari perawakannya yang serba pirang dan aksen bicaranya, kemungkinan besar pria itu dari Jerman. Pria itu beberapa kali menyapa. Baik saat di ruang tunggu Bandara di Taiwan, transit di Singapure maupun kini ketika telah mendarat. Wennie malas balas menyapa. Menurutnya, itu bisa berujung dengan ajakan kencan. Sesuatu yang ia tengah jauhi setelah hubungannya dengan tiga pria berturut-turut berakhir dengan kegagalan. Kejadian-kejadian tadi masih segar. Membekas begitu dalam menyisakan kenangan pahit. Sekaligus menyebalkan!
Sementara conveyor berisi berbagai tas, koper dan bungkusan terus berjalan, Wennie melihat melalui bayangan matanya. Si pria bule berpindah posisi. Dirinya yakin. Pria itu pura-pura mendekat. Sial, pikirnya. Sulit bagi dirinya untuk menggeser posisi ia berdiri saat itu mengingat kondisi sudah terbilang padat.
Dan kemudian terjadilah seperti yang dirinya duga. Pria itu menanyakan sesuatu. Sekedar bermaksud bersopansantun, Wennie membalas. Pria tadi bertanya lagi. Wennie menjawab kembali walau hanya dengan sepatah kata. Si pria bule terlihat tidak mudah menyerah dan malah makin banyak bertanya-tanya.
Untunglah koper yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wennie meraih secepat kilat, pamit pada si pria bule sebelum kemudian bergegas meninggalkan lokasi. Langkah kakinya panjang menuju pintu kaca bertuliskan ‘Exit’ yang menjadi penghubung dengan pelataran bandara.
Di sana, persis di sekitar pintu masuk, beberapa orang dari bagian travel mungkin, mengacungkan kertas-kertas berisi nama-nama orang yang akan mereka jemput. Mata elangnya mencari kesana-kemari. Berharap ada namanya disana. Tapi tidak ada. Saat ia memeriksa sekali lagi, namanya memang tidak ada.
Wennie kini berada di pelataran. Berbagai kendaraan hilir-mudik di depannya. Mobil pribadi, taksi, bis. Matanya masih terus mencari-cari. Namun bukan orang yang membawa label bertulis nama dirinya yang ia dapatkan, matanya malah tertumbuk ke pemandangan lain. Di sana, masih di ruang Baggage Claim yang tembus pandang, matanya melihat pria bule beraksen Jerman tadi yang kini nampak mendekati seorang gadis lain.
Melihatnya, Wennie menggeleng-geleng kepala sebelum kemudian duduk di bangku yang tersedia.
***
Entah karena radiasi lampu-lampu perlahan mulai mengalahkan dinginnya AC atau karena gugup, para peserta kontes VOKALIS INDONESIA 2009 yang berada di ruang terpisah merasa pagi itu suasana dalam ruangan terasa gerah.
Hari itu seluruh peserta kontes tampil lagi. Menyanyi di hadapan para juri dengan sorotan kamera. Hasil rekaman akan ditayangkan esok harinya ke seluruh nusantara untuk menentukan apakah mereka pantas masuk ke babak berikutnya atau berakhir hingga hari itu.
“Kamu nyantai banget,” Cemara tiba-tiba muncul di depannya bersama-sama dengan Ginanjar. Keduanya kontestan dari luar kota. Cemara dari Padang sedangkan Ginanjar dari Cianjur.
“Nggak ada beban ya?”
Arya yang tengah menghabiskan waktu menunggu dengan membaca-baca buku saku mengulas senyum. Bertiga mereka duduk di sudut ruangan dan mulai bercerita macam-macam. Tentu dengan setengah berbisik kalau tidak mau ditegur oleh panitia.
Sama hal dengan dirinya, baik Cemara maupun Ginanjar sama-sama berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Cemara memperbaiki posisi duduknya dan tanpa disuruh mulai bercerita.
“Aku sih nggak takut kalau harus tereliminasi di babak kualifikasi. Soalnya mengikuti acara ini membutuhkan modal yang bagi kami tidak sedikit. Kendati belum sampai menjual, tapi Papa sudah menggadaikan dua angkot yang kami miliki. Aku takut dengan lamanya aku bertahan, bapak akan semakin habis-habis menjual harta benda kami.”
“Perolehan suara kan bukan hanya dari pihakmu, tapi juga dari penonton yang puas dengan penampilanmu.”
“Ih kamu lugu amat, Jar.”
Alis Ginanjar terangkat. “Maksudmu?”
“Di tahap-tahap awal babak kualifikasi, perolehan suara yang murni dari penonton TV itu nggak banyak, ngerti? Mayoritas suara rekanan kita sendirilah yang mendongkrak popularitas.”
“Tahu dari mana?” tanya Arya setengah menggumam.
Volume suara Cemara merendah. “Aku tanya kepada beberapa kru TV.”
Ucapan Cemara membuat Arya teringat sesuatu. Cerita Cemara sepertinya tak sekedar asal bicara. Arya ingat sendiri bahwa 3 penyanyi yang tereliminasi sebelumnya sebetulnya memiliki olah vokal yang sangat bagus. Sayang, ketiganya memang harus meninggalkan ajang kontes terlebih dini mengingat sms-sms pendukung mereka tergolong minim.
“Jadi kita musti ngapain nih?” kata Ginanjar akhirnya.
Bola mata Arya berputar ke atas. “Musti ngapain? Ya tentunya kalian tetap harus tampil optimal di setiap tampil.”
“SMSnya?”
Arya mencoba menjawab sebijak mungkin. “Aku kurang tahu motif dan tujuan kalian. Tapi aku datang dan mengikuti kontes ini hanya untuk fun. Sekedar menyalurkan hobi menyanyi. Untuk itu, aku nggak akan pernah mendongkrak perolehan SMS dengan jual ini-itu dan beli pulsa HP. No way! Kalau toh memang harus tereliminasi, ya nggak apa-apa. Nothing to loose karena tampil di layar kaca 3 kali saja pun jelas-jelas memperkaya wawasan dan pengalaman hidup kita. At least, kita bisa nambah teman baru. Kalau ternyata malah menang, itu pun harusnya membuat kita sadar bahwa kemenangan kita bukan karena kekuatan diri sendiri karena dukungan bukan hanya dari keluarga kita. Jadi tak ada dalih buat nyombong.”
HP Arya yang telah bergetar beberapa kali segera ia angkat tanpa mendengar komentar Cemara sesudah itu.
“Halo.”
“Ini Bapak Arya?”
“Betul. Ini siapa?”
“Aku gurunya Tasya. Katanya dia mau bicara dengan Anda.”
Gagang telpon di ujung sana beralih. Terdengar suara lamat-lamat. Suara Tasya adiknya. Penderita Autis yang menjadi motivator perjuangan hidup dirinya dan juga ayahnya selama ini.
"Halo Cinta."
Mata Cemara membelalak sembari bertanya pada Ginanjar. “Pacarnya?”
“Adiknya,” Ginanjar mengoreksi. “Arya sering tuh telpon-telpon adiknya.”
Cemara mengangguk-angguk. Matanya melihat Arya yang dalam rangka mencari sinyal lebih baik kini bergerak ke arah jendela kaca.
"Kakak," panggil Tasya.
"Iyaaa."
“Kakak.”
“Iyaaa.”
"Kakak Ar-ya."
Buat orang yang belum pernah kenal atau mendengar Tasya berbicara, pasti akan menganggap aneh anak yang sebentar lagi berumur 8 tahun itu. Tapi tidak demikian buat Arya. Sebaliknya rasa capek dan pusing akibat pekerjaan di kantor yang belum setahun dijalaninya, sirna lebih cepat saat mendengar suara Cinta - panggilan sayang khususnya pada Tasya. Autis yang dideritanya sejak lahir justeru membuat cintanya begitu besar pada Tasya yang besok lusa mulai duduk di bangku SD.
"Mmm, ka-kak udah, kakak sudah, kakak su-dah nya-nyi belum?"
"Belum. Sebentar lagi. Kakak mau nyanyi sebaguuuus mungkin."
“Waaah.”
“Iya. Kan kakak menyanyi untuk Tasya.”
Terdengar suara menggumam di ujung sana. Tidak jelas apa yang dikatakan. Bagi Arya yang sudah amat mengenal autis adiknya, ia tidak perlu mengejar apa yang gumamkan.
"Bagaimana di sekolah?”
Jeda sejenak, sebelum Tasya menjawab. “Tasya nggak suka, nggak suka.”
“Kenapa?”
“Temen-temen pada bilang, temen-temen pada bilang, pada bilang kalo Tasya bego.”
“Tasya nggak bego. Tasya pinter. Buktinya? Udah bisa nelpon kakak di HP, hayo? Padahal Tasya baru kelas 1 SD. Siapa coba, anak yang pinter seperti Tasya? Iya kan? Iya kan?”
Upaya Arya menghibur adiknya nampak kurang mengena.
"Tasya tadi, Tasya tadi, tadi diganggu la-gi, kak."
"Diganggu lagi? Sama siapa?"
Tidak terdengar suara. Arya mencoba memanggil. Sekali, dua kali, tiga kali. Tetap tak terdengar tanggapan. Hanya isak sebagai gantinya. Sesaat kemudian, di ujung sana, Tasya memutus pembicaraan dengan mematikan panggilan telpon selulernya.
***
Olah vocal Arya dipuji habis-habisan oleh tiga anggota dewan juri. Juri pertama memberikan A plus untuknya. Juri kedua pun sangat puas, kendati terusik dengan pakaiannya yang konservatif. Adapun juri terakhir, Mbak Dewi, malah yakin bahwa selama kemampuannya tidak berubah, ia berharap Arya dapat masuk babak tiga besar.
Atas seluruh pujian tadi tentu saja diterima Arya bersyukur. Di depan kamera kegugupannya sirna ketika menyanyi. Namun justeru muncul begitu kuat ketika dirinya dinilai satu per satu. Beberapa kali ia tersenyum sambil tersipu ketika dipuja-puji.
Arya tidak menduga bahwa tidak lama kemudian, Indonesia akan mengenal dirinya. Bukan karena penampilannya namun karena senyumnya yang ternyata khas. Arya banget!
Begitu turun dari panggung, Arya tidak segera bergabung dengan yang lain melainkan menyendiri di ruang lain. Bukan karena bermaksud menjaga jarak melainkan karena HP di kantong celananya bergetar.
“Halo, Boss.”
Terdengar suara atasannya, di ujung sana. “Hei! Penyanyi idola, kamu masuk kantor dong!” panggil
Arya terkikik. Sejak ikut audisi, nama panggilannya banyak berubah. Terkadang ia dipanggil penyanyi idola lah, vokalis beken lah, artis pujaan lah.
“Kan aku cuti, Boss?” katanya sembari menutup sebelah telinga dengan telapak tangannya.
“Ih, jangan hitung-hitungan begitu dong. Kamu juga suka minta ijin keluar kantor termasuk untuk audisi kan? Ayolah, ini ada kasus penting.”
“Apa?”
Semenit berikutnya Pak Ramdan, sang atasan, memberitahu sesuatu. Wennie Indahsary yang ditugaskan untuk audit pemasok di Lombok segera tiba di Jakarta. Untuk maksud itu Arya diminta untuk menjemput di airport.
“Aku musti ngejemput Wennie di aiport?” tanyanya setengah tak percaya. “Kan dia bisa naik taksi.”
“Dia masih trauma dengan pengalaman penodongan tahun lalu.”
“Bis DAMRI?”
“Hari ini sopir-sopir mereka unjuk rasa.”
“Mobil carteran?”
“Tidak bisa, mereka kan …”
“Ojek?”
“Kamu tuh. Sudah memotong pembicaraan, ngaco lagi!” suara Pak Ramdan meninggi. Beliau pura-pura marah karena sedetik kemudian tawanya berderai. “Kamu tega Wennie naik ojek dari Bandara ke Jakarta?”
“Tega aja. Jutek sih.”
“Kalian berdua masih suka beda paham ya? Sudahlah, kamu jemput dia ya?”
“Aduuuh…”
“Please, tolong jemput. Ingat! Wennie itu anak yang punya perusahaan.”
“Aduuuh…”
“Kamu sudah selesai tampil di panggung kan?”
“Aduuuh…”
“Kamu dari tadu aduh-aduh terus. Kakimu terinjak?”
Arya hanya bisa pasarah. “Jadi aku musti ngejemput nih?”
“Ya eya lah, masa ya eya dong,” jawabnya. Sang Boss memang belakangan ini suka sekali mengucap kalimat tadi. Entah karena ingin terlihat gaul atau memang gaul sungguhan mengingat usinya yang ABG – Anak Baru Gocap alias lima puluh. “Dari tempatmu kesini hanya sepuluh menit kan? Cepat datang ke kantor ya? Aku tungguin lho!”
Pembicaraan kemudian berakhir sampai disitu.
***
Di Bandara, Wennie masih menunggu. Ia betul-betul bosan. Ia telah menunggu mulai di pelataran, di kafe, ruang tunggu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang menjemputnya segera tiba.
Saat melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 10.13. Ia menghela nafas. Sudah ½ jam ia menunggu dan belum ada tanda-tanda ada orang dari kantor yang menjemput.
Ia tidak bisa menelpon pihak kantor untuk dijemput secepatnya mengingat HPnya low-bat semenjak di Singapura.
Sambil menyeret-nyeret tas kopornya kesana-kemari, Wennie kemudian kembali menunggu. Dan perlahan, seiring berjalannya waktu, ketidaksabarannya membuncah keluar.
***
Suara riuh anak-anak di SLB Harapan Muda berangsur-angsur mereda setelah bel tanda masuk berbunyi. Waktu istirahat bermain telah habis dan anak-anak kembali ke kelas masing-masing.
Namun sebetulnya tidak semua anak masuk ke kelas masing-masing.
Tasya adalah salah satunya.
Wajahnya pucat, tangannya bersedekap dengan wajah nanar. Saat datang ke sekolah pagi hari, ada Arya di sampingnya. Kini, ia sendiri. Takut di dunia sekolah yang penuh keramaian namun asing ini.
Seperti yang ia khawatirkan, suasana di sekolah memang tidak senyaman suasana di rumah yang hangat dengan kasih sayang ayah dan kakaknya. Sekolah ternyata tidak nyaman dan bahkan menakutkan.
Hari pertama bersekolah ini buktinya.
***
Ruang kerja Pak Ramdan dalam keadaan kosong ketika Arya tiba di sana. Wajah orang itu ceria ketika melihat kedatangannya.
“Boss, ini yakin nih nggak bisa minta tolong driver?”
“Kita masih ada satu mobil operasional. Tapi supir kita pada sibuk semua. Ajab lagi mengantar anak R&D ke Badan POM. Pak Soleh sakit. Turun bero katanya. Dan satu lagi, paaak…anu… paaaak… sopo sih jenenge? Yang orang baru itu lho.”
Melihat Pak Ramdan terlihat sulit mengingat sesuatu, Arya spontan membantu. “Obama?”
“Iya, Pak Obama. Koq lali sih aku?” tanyanya retoris.
Akal bulus Arya mendadak muncul sekelebat. “Hebat ya tuh orang. Bisa jadi presiden Amrik.”
“Iya hebat.”
“Sudah begitu, dia ternyata pernah tinggal di Indonesia lagi.”
“Gitu ya?”
“Mmm, bapak ngikutin berita sewaktu beliau kampanye sewaktu jadi capres?”
“Nggak.”
“Seru lho, Pak.”
“Gitu ya?”
“Iya. Waduh, bapak ketinggalan berita nih,” cetusnya santai. Hubungan dirinya dengan Pak Ramdan memang akrab sehingga kesan formal pun hanya tersisa ketika mereka mengadakan rapat-rapat formal.
“Maklum. Sibuk.”
“Aku juga. Minggu ini kita banyak ekspor lho.”
“O yai?”
“Iya,” Arya tetap berceloteh. Akal bulus terus bekerja. Berharap Pak Ramdan melupakan perintah menyuruhnya ke bandara. “Aku sedang mengurus ekspor ke Malaysia, Australia dan India. Sibuk sekali.”
“Gitu ya?’
Bosan. Gitu-ya, gitu-ya, melulu. Sudah tiga kali nih, cetus Arya. Dalam hati tentu.
“Sebaiknya aku terus monitor ya, Pak?”
“Boleh.”
Arya seketika berseri-seri. Namun baru saja ia hendak meninggalkan ruangan, orang itu memanggil lagi.
“Eh, tunggu!” ABG yang mulai berkeriput disana-sini itu mendadak teringat sesuatu, “kamu tadi mau nanya apa ya? Kenapa kita jadi membahas masalah Obama dan masalah ekspormu?”
Arya menatap Pak Ramdan. Wajahnya dibuat se-innocent mungkin. Sok imut. Padahal – sungguh mati – ulahnya kurang ajar betul karena mengadali atau mengakali Pak Ramdan!
“Kita kan tadi membahas orang yang bisa menjemput Wennie di airport.”
Arya pasrah. Mati aku, katanya dalam hati.
“Kenapa jadi beralih topik ke hal lain?” sambungnya, “kamu ngerjain Bapak ya?”
Arya menjawab cepat. “Nggaaaaak. Sopir yang bapak maksud memang nama panggilannya Obama. Kata orang-orang tampangnya mirip-mirip Presiden Obama.”
“Item, keling, kerempeng. Apanya yang mirip Obama?”
“Mmm, mungkin kalo dilihat dari Monas,” mati-matian Arya mempertahankan wajah innocent nan kurang ajar tadi.
“Nama aslinya kan… anu…,” Pak Ramdan terlihat kesulitan lagi mengingat nama orang yang ia maksudkan.
“Kuncoro.”
“Iya Pak Kuncoro.”
“Memang ada apa dengan Pak Kuncoro, Pak?”
Ditanya demikian Pak Ramdan bingung lagi untuk yang keempat. Hanya kata ‘anu’ yang terlontar dari mulutnya.
“Kamu tadi mau nanya apa ya?”
My goodness…
Arya hanya mau tertawa dalam hati sebetulnya. Tapi gagal. Suara terkikik-nya membuat Pak Ramdan mendadak cemberut.
“Aku koq lupa terus sih? Kamu ada apa sih nanya-nanya Obama atau Pak Kuncoro?”
Pak Ramdan sebetulnya agak malu bertanya. Namun mau apa lagi? Arya sampai harus mengatur nafas terlebih dahulu sebelum mulai menjawab. “Aku hanya mau tanya. Apakah ada driver yang bisa menemani aku untuk menjemput orang di airport.”
“Ooooh iya. Wennie kan?”
Arya hanya mengangguk. Tawa kecilnya masih bersisa akibat mengingat ulah Sang Boss yang dosis lupanya seperti bertambah terus tiap hari.
“Begini,” Pak Ramdan yang sedari tadi duduk di ujung meja sekarang duduk dengan baik dan benar. Duduk di kursi dengan Arya di hadapannya. Di seberang meja kerjanya. “Kamu harus kesana. Tapi saat ini kantor sedang tidak punya driver.”
“OB?”
“Office Boy mana yang mau kamu pakai, hah? Tidak seorang pun yang bisa menyetir.”
“Jadi?”
“Kamu pergi sendiri. Bawa sendiri mobil operasional perusahaan.”
“Yang Toyota Landcruiser?”
“Kamu minta dipecat ya? Itu mobil Big Boss!”
“O. Jadi yang minibus APV?”
“Ya eya lah, masa ya eya dong,” jawabnya. Itu lagi, itu lagi.
Arya tertunduk. Sedikit pasrah. Melihat sikap anak-buahnya sekarang giliran Pak Ramdan yang terkikik menertawai.
“Bapak sudah lama tahu. Kalian sering berbeda pendapat. Barang terlambat di-rilis, Wennie komplain. Terlalu cepat dikirim dia pun protes hingga petinggi perusahaan pada tahu. Salah spesifikasi walau hanya sedikit, dia lebih komplain. Order tercampur, dia terus mencecarmu. Perusahaan pelayarannya lalai merilis Delivery Order, kamu yang kena damprat. Hilang lima karton, kamu yang diminta ngurus. Emailmu pakai huruf tebal, dia mencak-mencak. Bapak tahu semua, Arya. Tahu semua.”
“So?”
“Tapi bagaimanapun juga, sebaiknya kamu pergi menjemput di airpot. Itu usul bapak.” Pak Ramdan menyerahkan kunci kendaraan.
“O itu cuma usul toh, Pak?” mata Arya sedikit bersinar. Sepertinya ia melihat setitik harapan. Sayang, jawaban Pak Ramdan menyirnakan harapan tadi
“Itu usul tapi sifatnya wajib wajib dilaksanakan.”
Balon bertuliskan ‘ketik C spasi D alias Cape Deh’ sepertinya muncul di atas kepala Arya.
Tak ada pilihan lain, Arya sadar, dia harus memenuhi permintaan sang Boss.
“Ya sutra lah,” cetusnya sembari bangkit dari bangku. Siap meninggalkan ruang kerja bertuliskan ‘Departemen Logistic Manager’ di pintu masuknya.
“Kamu tidak keberatan kan?” tanya Pak Ramdan setengah berteriak saat Arya hendak menutup pintu ruang kerjanya.
“Kalo aku keberatan gimana pak?“
“Ya nggak boleh.“
Hhhh...
Demikianlah, Arya akhirnya meninggalkan pekerjaan yang ia tengah tekuni hari itu sambil meraih kunci. Setengah terpaksa, ia lantas membawa mobil dinas yang lowong sebelum kemudian mempercepat lanjut kendaraan untuk menuju bandara.
***
Dari jalan arteri, sebuah taksi meluncur mengarah ke pintu tol dalam kota. Sesaat setelah membayar ongkos tol, taksi kemudian mempercepat lajunya.
“Cepat sedikit ya,” cetus bapak separuh baya, penumpang yang duduk di sebelahnyanya.
Si pengemudi taksi meng-iya-kan dengan sopan sebelum menekan pedal gas lebih dalam lagi.
HP di sakunya tiba-tiba berbunyi.
Saat melihat di layar perangkat komunikasi itu bahwa panggilan adalah dari SLB tempat puterinya bersekolah, Pak Setiawan memperlambat kecepatan.
“Halo.”
“Selamat siang. Ini bapak Setiawan?”
“Betul, ini siapa?”
“Aku Catur. Kepala SLB Harapan Muda. Bapak bisa kemari segera?”
Pak Setiawan mengerenyitkan kening. “Mm, ada apa?”
“Penting pak. Ini mengenai putri bapak.”
“Ada apa dengan Tasya?”
“Anu …”
“Kenapa?”
“Anu, tanpa kami sadari, dia naik ke atap gedung sekolah.”
***
Wednesday, April 8, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment